Selamat Datang di Griya Bina Yamuti

Kami ada karena kepedulian terhadap anak anak yatim piatu dhuafa yang menjadi tanggunjawab bersama. Masa depan mereka menjadi hak mereka untuk di gapai, keceriaan dan kebahagiaan tidak harus direnggut dari mereka karena ketiadaan orangtua yang memang bukan keinginan mereka. Mereka ingin merasakan pendidikan dan kebahagiaan seperti anak anak lainnya.
  • Bina Taqwa

    • Program pembinaan anak anak yatim Binaan untuk membangun kreatifitas kemandirian anak anak yatim.
  • Santunan Kreatif

    • Kegiatan Santunan yang bersifat karitas kepada seluruh yatim Binaan Yamuti. Melalui kegiatan Santunan Langsung, Kegiatan Gerebek (Gerakan Edukasi Berbagi Kasih) Read More
  • Bina Belajar

    • Pemberian Beasiswa penunjang pendidikan anak anak binaan yamuti yang diberikan per semester.
  • S.E.M.A.R.T

    • Sidiq Empati Mandiri Amanah Religius Terampil. Sasaran pembinaan dan pendampingan melalui berbagai kegiatan kreatif membentuk pribadi yang tangguh.Read More
  • Bina Sejahtera

    • Program kemitraan/ pemberdayaan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan bagi anak-anak.
  • Wakaf Produktif

    • Program donasi berupa uang, tanah atau bangunan yang akan dikelola secara produktif hanya untuk diambil manfaatnya hingga mampu menghasilkan surplus berkelanjutan Read More
Kisah Rasulullah SAW Menghibur

 Anak Yatim di Hari Raya Idul Fitri

Sikap Rasulullah membuat kesedihan anak itu hilang.
Di tengah suasana sukacita Idul Fitri, ada kalanya kebahagiaan tidak dirasakan oleh semua orang, terutama mereka yang kehilangan orang tercinta. Sebuah kisah di masa Nabi Muhammad SAW menggambarkan bagaimana kasih sayang mampu mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan. Dalam peristiwa itu, Rasulullah SAW menunjukkan kepedulian mendalam kepada seorang anak yatim yang larut dalam duka di hari raya, hingga akhirnya senyum kembali menghiasi wajahnya.

Dikisahkan, suatu ketika di zaman Nabi Muhammad SAW ada seorang anak kecil yatim yang sedang bersedih di momen hari raya Idul Fitri. Kemudian perlakuan Rasulullah SAW terhadap anak yatim tersebut membuat kesedihannya hilang dan berubah menjadi bahagia.

Kisahnya, pada suatu hari ketika Idul Fitri, Nabi Muhammad SAW biasanya mengunjungi rumah ke rumah untuk mendoakan kaum Muslim. Di perjalanan, Nabi Muhammad SAW melihat banyak anak-anak sedang bermain dan tertawa. Mereka bermain sambil berlari-lari mengenakan pakaian bagus, mereka semua tampak senang dan bahagia.
Tiba-tiba, Nabi Muhammad SAW melihat di ujung jalan seorang anak gadis kecil duduk bersedih. Anak itu terlihat memakai pakaian tambal-tambal dan sepatu usang. Nabi Muhammad SAW bergegas menghampirinya. 

Anak gadis kecil ini menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis tersedu-sedu. Nabi Muhammad SAW meletakkan tangannya dengan penuh kasih pada kepala anak gadis kecil itu sambil bertanya dengan suara yang lembut, "Anakku, mengapa kamu menangis? Ini adalah hari raya bukan?"
anak gadis kecil itu terkejut. Tanpa berani mengangkat kepala dan melihat siapa yang bertanya. Sambil menjawab terbata-bata, anak gadis itu berkata, "Di hari raya ini semua anak merayakannya penuh gembira bersama orang tuanya. Semua anak bermain senang. Namun, aku teringat ayahku yang telah tiada. Karena itulah aku menangis. Hari raya terakhir, ia masih ada bersamaku. Ia membelikanku gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Saat itu, aku sungguh berbahagia."
Anak gadis kecil itu melanjutkan ceritanya, "Kemudian, suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah hingga ia terbunuh. Kini, ayahku tiada. Aku menjadi anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu untuk siapa lagi?"

Mendengar cerita anak gadis itu, seketika hati Nabi Muhammad SAW diliputi duka yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang, Nabi Muhammad SAW membelai kepala anak gadis itu sambil berkata, "Anakku, hapuslah air matamu, apakah kau ingin aku menjadi ayahmu? Apakah kau suka jika Fatimah menjadi kakak perempuanmu dan Aisyah menjadi ibumu? Bagaimana, Anakku?"
Mendengar kata-kata itu, anak gadis itu kaget, dan berhenti menangis. Anak gadis itu menyadari yang berbicara dengannya adalah Rasulullah SAW. Anak gadis itu tentu saja sangat senang mendengar penawaran Rasulullah.

Kemudian, anak gadis itu berjalan bergandengan tangan dengan Nabi Muhammad SAW ke rumah beliau. Hatinya diliputi kebahagiaan yang sulit dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangan Rasulullah SAW yang lembut bagai sutra.

Tiba di rumah Rasulullah SAW, Fatimah membersihkan wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu menyisir rambutnya. Ia dipakaikan gaun yang indah, diberi makanan, juga uang saku untuk hari raya. Kemudian ia diantar keluar, agar dapat bermain dengan anak-anak lain. 

anak gadis yang tadinya murung dan menangis, kini bisa ikut bermain dan bahagia dengan anak-anak lainnya. Hingga anak-anak lain heran melihatnya, karena menjadi bahagia setelah sebelumnya menangis karena sedih.

Dikutip dari Republika online Islam digest 21 Maret 2026


 
Share:

2 FUNGSI UTAMA ZAKAT FITRAH MENURUT HADIS HASAN SAHIH




2 FUNGSI UTAMA ZAKAT FITRAH MENURUT HADIS HASAN SAHIH

Bulan Ramadan yang penuh berkah kini perlahan menuju penghujung. Selain dipenuhi dengan ibadah salat, tadarus, dan sedekah, ada satu kewajiban paripurna yang menjadi penutup manis rangkaian ibadah puasa kita: zakat fitrah.

Zakat fitrah bukan sekadar rutinitas tahunan menjelang Lebaran, melainkan wujud syukur atas selesainya ibadah puasa dan bukti nyata kepedulian kita terhadap sesama muslim yang membutuhkan. Jangan sampai kita terlupa, karena keterlambatan dalam menunaikannya justru bisa mengurangi kesempurnaan ibadah puasa kita sebulan penuh.

Mengapa Zakat Fitrah Begitu Penting?

Secara syariat, zakat fitrah memiliki dua fungsi utama yang sangat mulia:

1. Penyempurna Ibadah Puasa: Zakat fitrah berfungsi sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor yang mungkin tak sengaja terucap selama bulan Ramadan.

2. Memberi Makan Orang Miskin: Ibadah ini memastikan bahwa di hari kemenangan nanti, tidak ada satu pun saudara muslim kita yang kelaparan. Kita berbagi kebahagiaan agar semua orang bisa merayakan Idulfitri dengan perut kenyang dan hati yang riang.

Kedua fungsi luar biasa ini bersandar pada sabda Nabi ﷺ dari riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma: Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, serta sebagai makanan bagi orang miskin." (HR. Abu Dawud No. 1609 dan Ibnu Majah No. 1827. Hadis ini berderajat Hasan menurut Syekh Al-Albani).

Waktu Terbaik Menunaikan Zakat Fitrah

Sesuai dengan sunah, waktu penunaian zakat fitrah yang paling utama adalah setelah terbit fajar pada hari Idulfitri, tepatnya sebelum salat Id dimulai.

Namun, demi kemaslahatan dan agar distribusi ke penerima manfaat lebih efektif, mayoritas ulama memperbolehkan zakat fitrah ditunaikan sejak awal bulan Ramadan atau beberapa hari sebelum Idulfitri tiba. Jangan menunda hingga malam takbiran atau mepet saat salat Id akan dimulai, karena hal itu berisiko membuat distribusi zakat ke fakir miskin menjadi terlambat dan tidak tepat sasaran. Segera tunaikan sekarang!

Cara Mudah Menunaikan Zakat Fitrah

Di era sekarang, menunaikan zakat menjadi jauh lebih praktis:

Melalui Masjid/Panitia Zakat (Amil): Anda bisa menyalurkan langsung kepada panitia amil zakat di masjid atau musala lingkungan terdekat agar manfaatnya dirasakan tetangga sekitar.

Melalui Lembaga Amil Zakat (LAZ) Resmi: Anda juga dapat menyalurkan zakat secara online melalui lembaga tepercaya yang memiliki sistem transparansi penyaluran yang baik.

Besaran Nominal: Tunaikanlah sesuai dengan ketentuan syariat, yakni beras atau bahan makanan pokok seberat 2,5 kg atau 3,5 liter per jiwa. Jika ingin membayar dengan uang tunai, sesuaikanlah dengan nominal yang telah ditetapkan oleh BAZNAS atau fatwa MUI di wilayah domisili Anda.

Mari Berbagi, Mari Berzakat

Kebahagiaan Idulfitri akan terasa jauh lebih bermakna jika kita bisa merayakannya bersama-sama tanpa ada yang kesusahan. Dengan menunaikan zakat fitrah, kita tidak hanya menggugurkan kewajiban agama, tetapi juga sedang mengetuk pintu langit dengan amal kebaikan dan rasa empati yang tulus.

Yuk, sempurnakan puasa kita dengan zakat fitrah!
Share:

SERING LUPA PAS BERDIRI DI SAFF? INI TATA CARA LENGKAP SALAT IDULFITRI

SERING LUPA PAS BERDIRI DI SAFF? INI TATA CARA LENGKAP SALAT IDULFITRI

Salat Idulfitri memang cuma setahun sekali. Jadi, wajar banget kalau kadang suka nge-blank alias lupa pas sudah berdiri di saf. Berapa kali takbir tambahan ya? Terus di sela-sela takbir baca apa?

Supaya ibadahnya khusyuk dan gak celingukan mengikuti gerakan orang di sebelah, mending refresh lagi ingatan soal tata caranya. Semuanya sudah ada panduannya langsung dari Rasulullah ﷺ, lho!

Yuk, simak urutan salat dua rakaat ini supaya makin mantap melangkah ke masjid atau lapangan:

Rakaat Pertama:

1. Takbiratul Ihram: Mulai gerakan salat seperti biasa.

2. 7 Kali Takbir Tambahan (Zawa-id): Sebelum membaca Al-Fatihah, imam akan bertakbir sebanyak 7 kali. Sangat disunnahkan untuk mengangkat tangan di setiap takbirnya. Ibnul Qayyim mengutip kebiasaan sahabat Nabi: "Ibnu Umar yang dikenal sangat meneladani Nabi ﷺ biasa mengangkat tangannya dalam setiap takbir."

3. Bacaan Jeda Takbir: Di sela-sela takbir, ada bacaan zikir pujian. Syaikhul Islam menyebutkan bacaan dari para ulama salaf yang berbunyi:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي 

"Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahummaghfirlii war hamnii." 
(Maha Suci Allah, segala puji bagi-Nya, tiada tuhan selain Allah. Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah aku).

4. Surah Pilihan: Setelah selesai membaca Al-Fatihah, disunnahkan membaca Surah Qaaf atau Surah Al-A'la.

(Setelah itu, lakukan gerakan ruku, sujud, dan seterusnya hingga bangkit ke rakaat kedua).

Rakaat Kedua: 

5. Takbir Bangkit dari Sujud: Lakukan takbir intiqal biasa untuk berdiri. 

6. 5 Kali Takbir Tambahan (Zawa-id): Di rakaat kedua ini, takbir tambahannya hanya 5 kali sebelum mulai membaca Al-Fatihah. Jeda antar takbirnya diisi dengan zikir yang sama persis seperti di rakaat pertama tadi. 

7. Surah Pilihan: Setelah Al-Fatihah, sunnahnya membaca Surah Al-Qamar atau Surah Al-Ghasyiyah. 

8. Salam: Selesaikan seluruh sisa gerakan salat hingga salam! ✨

Anjuran bacaan surah di atas itu bersumber langsung dari hadis sahih riwayat Imam Muslim.

Dari riwayat sahabat Umar bin Khattab saat bertanya ke Waqid Al-Laitsiy soal kebiasaan Nabi ﷺ:

"Nabi ﷺ biasa membaca 'Qaaf, wal qur'anil majiid' (Surah Qaaf) dan 'Iqtarobatis saa'atu wan syaqqol qomar' (Surah Al-Qamar)." (HR. Muslim No. 891)

Ada juga opsi surah lain berdasarkan hadis dari An-Nu'man bin Basyir:

"Rasulullah ﷺ biasa membaca dalam salat Ied maupun salat Jumat 'Sabbihisma robbikal a'la' (Surah Al-A'laa) dan 'Hal ataka haditsul ghosiyah' (Surah Al-Ghasyiyah)." (HR. Muslim No. 878)

Sudah kebayang urutannya, kan?
Share:

ROMADAN TINGGAL MENGHITUNG HARI, SUDAH LAKUKAN 5 HAL INI?

Sahabat, sadar gak kalau kita sudah memasuki bulan Sya'ban? Tidak terasa, bulan suci Ramadan tinggal menghitung hari untuk kita memasukinya.

Jangan sampai kita kaget saat tamu agung itu datang. Mari bersemangat dan lakukan 5 hal penting ini:

1. Melunasi Utang Puasa 

Ini yang paling krusial. Jangan sampai lalai dengan utang puasa tahun lalu. Jika di Ramadan sebelumnya ada puasa yang tak tertunai karena halangan, sakit, atau dalam perjalanan, ayo segera dibayar (qada) sekarang juga mumpung masih ada waktu.

2. Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Sya'ban 

Rasulullah ﷺ banyak berpuasa sunnah di bulan Sya'ban. Memperbanyak puasa sunnah saat ini merupakan "pemanasan" atau latihan bagi fisik dan hati kita agar tidak kaget dan siap menjalani puasa sebulan penuh di bulan Ramadan nanti.

3. Berdoa Menyambut Ramadan 

Langitkan doa indah yang diajarkan para ulama ini:

Allahumma Sallimni Ila Ramadhan wa Sallim li Ramadhan wa Tasallamhu Minni Mutaqabbalan

Artinya: 
"Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadan, dan antarkanlah Ramadan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadan." (Lathaif Al-Ma'arif)

4. Mendalami Ilmu Tentang Ramadan 

Sangat dianjurkan jika kita kembali membuka buku catatan atau kajian tentang Ramadan. Ingat, ilmu sangat diutamakan sebelum beramal. Syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan sesuai dengan tuntunan syariat. Maka, pelajarilah kembali fikih puasa, salat tarawih, zakat, sedekah, dan ibadah-ibadah lainnya.

5. Menyambut Ramadan dengan Penuh Syukur 

Kondisikanlah hati kita untuk banyak bersyukur karena insyaallah akan segera dipertemukan kembali pada bulan suci Ramadan. Tidak semua orang beriman yang menginginkan bertemu Ramadan, Allah ﷻ sampaikan umurnya. Betapa bahagia jika kita diperkenankan bertemu Ramadan dan mengisinya dengan berbagai amal saleh terbaik.

Yuk bersama di circle yang baik, meraih ilmu, & berkah. Bersama yayasan griya bina yamuti
Share:

Menguatkan Iman di Tengah Ujian: Teladan dari Para Nabi


Dalam perjalanan hidup, ujian adalah sebuah keniscayaan bagi setiap manusia. Bahkan para Nabi yang paling dicintai Allah pun tidak luput dari cobaan berat. Hikmah ini menjadi pengingat bahwa siapa pun yang menempuh jalan kebenaran pasti akan berhadapan dengan ujian yang menguatkan iman.


Ujian Para Nabi sebagai Teladan

Al-Quran merekam kisah-kisah ujian yang menimpa para Rasul:

- Nabi Adam AS diuji konflik tragis antara putranya, Qabil dan Habil, hingga terjadi pembunuhan pertama dalam sejarah manusia (Qs. Al-Maidah: 27–31).

- Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS menghadapi kedurhakaan istri dan keluarga mereka sendiri (Qs. Hud: 42; Qs. At-Tahrim: 10).

- Nabi Ibrahim AS ditindas dan hendak dibakar hidup-hidup oleh penguasa zalim karena dakwah tauhidnya. Allah menyelamatkannya (Qs. Al-Anbiya: 69).

- Nabi Ayyub AS menderita sakit parah, namun kesabarannya membuatnya dipuji Allah (Qs. Al-Anbiya: 83; Qs. Shad: 44).

- Nabi Musa AS menghadapi kezaliman Firaun yang menindas Bani Israil hingga akhirnya Allah menenggelamkan Firaun (Qs. Al-Baqarah: 49–50).

- Nabi Muhammad SAW dihina, ditolak, dan diganggu kaumnya hingga Allah memerintahkannya berhijrah.

Dari semua kisah tersebut, tampak jelas bahwa kedekatan kepada Allah bukan jaminan bebas dari ujian, justru menjadi alasan mengapa ujian itu datang lebih dahsyat.


Hakikat Ujian Hidup

Ujian bukan untuk melemahkan, melainkan:

- Menguji keimanan dan ketakwaan

- Menyaring antara yang jujur dan yang dusta

- Menjadi jalan untuk lebih dekat pada Allah


Allah berfirman:

“Apakah manusia mengira akan dibiarkan berkata ‘Kami beriman’ tanpa diuji?”

(Qs. Al-Ankabut: 2–3)

Sikap menghadapi ujian menjadi pembeda utama antara orang sabar dan yang ingkar.


Fokus pada Sikap, Bukan Beratnya Cobaan

Ujian menimpa semua orang—kaya dan miskin, pemimpin dan rakyat jelata. Maka yang terpenting bukan besarnya cobaan, melainkan bagaimana kita meresponsnya.

Allah menjanjikan kabar gembira bagi orang yang bersabar dan mengembalikan semuanya kepada-Nya:

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…”

(Qs. Al-Baqarah: 155–156)


Sunnatullah: Sejarah yang Selalu Berulang

Allah telah menetapkan hukum kehidupan (sunnatullah) yang tidak berubah:

“Engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnatullah.”

(Qs. Al-Ahzab: 62; Qs. Al-Fath: 23)

Karena itu, perjuangan di jalan kebenaran pasti mengulang kisah para pendahulu. Maka jika cobaan datang, jangan terkejut—itulah bagian dari jalan orang-orang beriman.


Sikap yang Harus Dijaga

- Kuatkan niat awal agar tidak bergeser oleh ujian

- Sucikan diri, perbaiki langkah, dan tetap berada dalam jamaah yang saling menguatkan

- Syukuri kebersamaan, sempurnakan kekurangan bersama

- Jaga hati tetap lapang, karena Allah menguji sesuai kemampuan hamba-Nya


Penutup

Ujian adalah tanda perhatian Allah kepada hamba-Nya. Jika para Nabi saja menghadapi ujian besar, maka kita pun akan melalui hal serupa sesuai kemampuan kita.

Apa pun yang terjadi hari ini merupakan bagian dari perjalanan menuju ridha-Nya. Selama niat lurus dan langkah dijaga, setiap ujian akan menjadikan diri semakin kuat dan semakin dekat kepada Allah SWT. (H.A. Abd. Wahid)


Share:

Kegiatan Bulan Desember

Label

Kegiatan Terbaru

Kisah Rasulullah SAW Menghibur  Anak Yatim di Hari Raya Idul Fitri Sikap Rasulullah membuat kesedihan anak itu hilang. Di tengah suasana suk...

Label

artikel (1) berita (13) cinta tanah air momen kemerdekaan (2) dan Kegiatan Silaturahim Penerima Manfaat anak-anak yatim piatu Binaan (2) doa akhir tahun & awal tahun (1) donasiyatim (17) Dongeng (6) Dzulqa'dah (1) gerebek (15) Hikmah kelompok yang tidak diwajibkan solat (2) Hikmah orang yang Bakhil (1) hikmah Selepas Ramadhan (1) infak (7) Inspirasi (3) inspirasi silataruhiim pembukaan rekening Bank Bagi anak-anak yang dimuliakan Rasullulloh (1) Inspirasi tentang liburan lebih produktif (1) jumatberkah (15) kajian (1) kegiatan (31) Kegiatan Peresmian Majlis Penghapal Alqur'an Al Hafidz Oleh Pj.walikota Sukabumi (1) Keistimewaan Rajab (1) kisah Uwais Alqarni Penghuni Langit (1) Kurban 1445H (1) Laporan kegiatan Tahunan (1) Literasi (44) Literasi Dunia Islam (1) Literasi Dunia Islam peristiwa penting diBulan Rajab (1) Literasi Puasa Qadha Ramadhan (1) Literasi Tips jaga keluarga harmonis (1) Ngaji online (1) pembangunan (4) Pembinaan Diri (1) pengajian (2) Penyaluran infak zakat sedekah (1) Peringatan Hari besar Islam Maulid Nabi Muhammad Saw 1446 H / 27 sep 2024 M (1) program (4) program Bina Taqwa (3) Program kado lebaran dan THR Yatim dan Keluarga Pra Sejahtera (1) Program Kurban (1) program muharram (2) progres pembangunan Tahap 3 Ruang MPQ (1) qurban (6) ramadhan (1) Ramadhan Amalan Ramadahan (1) rumahbelajar (3) santunan (14) Sedekah Al-Qur'an (1) sedekahjumat (5) sedekahyatim (3) Tadabur (1) Tadarus (1) tentang bulan syawwal (1) tentang pristiwa di bulan syawwal (1) yamuti (2) yatimdhuafa (1) yatimpeduli (2) yatimpeduliu (1) zakat (3)