Bekerja Menggunakan Keahlian Kita adalah Bentuk Syukur pada Allah Swt.


Bekerja Menggunakan Keahlian Kita adalah Bentuk Syukur pada Allah Swt.


Tadarus, Tadabbur QS Saba 34: ayat 10-13


bertasbihlah berulang-ulang bersama Dāwūd" dan Kami telah mengulangkan besi untuknya,

أَنِ ٱعْمَلْ سَـٰبِغَـٰتٍۢ وَقَدِّرْ فِى ٱلسَّرْدِ ۖ وَٱعْمَلُوا۟ صَـٰلِحًا ۖ إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌۭ

(yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sebenarnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.

وَلِسُلَيْمَـٰنَ ٱلرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌۭ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌۭ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُۥ عَيْنَ ٱلْقِطْرِ ۖ وَمِنَ ٱلْجِنِّ مَن يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِۦ ۖ وَمَن يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaimān yang perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga padanya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhan-nya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami merasakannya azab neraka yang apinya menyala-nyala.

يَعْمَلُونَ لَهُۥ مَا يَشَآءُ مِن مَّحَـٰرِيبَ وَتَمَـٰثِيلَ 

Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan  دَاوُۥدَ شُكْرًۭا ۚ وَقَلِيلٌۭ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ

Para jin itu membuat untuk Sulaymān apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Dāwūd untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.

Tafsir

Allah swt memberikan karunia kepada Nabi Daud berupa kenabian dan Kitab Zabur. Gunung-gunung dan burung diperintahkan untuk bertasbih bersamanya, serta besi dilunakkan di tangan seperti adonan roti. Allah memerintahkannya membuat baju besi besar dan menganyamnya dengan ukuran yang sesuai, serta mengingatkan keluarga Daud untuk beramal saleh, karena semua perbuatan mereka Dia lihat dan akan dibalas.

Untuk Nabi Sulaiman, Allah memerintahkan angin kepadanya, sehingga perjalanan pagi dan sorenya setara dengan perjalanan per bulan. Allah juga mengalirkan cairan tembaga untuknya dan memerintahkan jin agar bekerja di bawah perintahnya. Para jin ini membangun gedung-gedung tinggi, patung hiasan, piring besar seperti kolam, dan periuk-periuk besar yang tetap berada di atas tungku.

Allah mengingatkan keluarga Daud untuk bekerja sebagai bentuk terima kasih kepada-Nya. Namun Allah juga menegaskan bahwa hanya sedikit dari hamba-Nya yang benar-benar bersyukur dengan hati, lisan, dan amal.

Refleksi #1 — Keahlian yang saya miliki adalah titipan Allah, agar saya menggunakannya untuk beramal shalih

Nabi Daud diberi kemampuan unik untuk melunakkan besi tanpa harus ditempa—suatu keterampilan yang begitu langka hingga menjadi mukjizat. Namun, Allah tidak menganggap keahlian itu sebagai sebuah kebetulan. Allah juga memberikan Arahan yang jelas:

Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan

“Buatlah baju-baju besi besar, ukurlah anyamannya dengan teliti, dan kerjakanlah amal saleh.” (QS Saba : 11)

Allah ingin Nabi Daud menggunakan keahliannya bukan sekadar untuk dirinya sendiri, tetapi untuk manfaat yang lebih besar: amal saleh. Begitu juga dengan kita. Keahlian yang kita miliki bukan sekedar beruntung atau hasil usaha pribadi. Itu adalah titipan Allah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Mungkin kita ahli dalam teknologi, bisnis, pendidikan, atau bidang lainnya. Apa pun keahlian kita, itu bukan sesuatu yang datang tanpa tujuan. Allah memberikannya kepada kita agar kita bisa memainkan peran tertentu dalam kehidupan ini. Maka, pertanyaannya adalah, apakah kita sudah menggunakan keahlian kita untuk sesuatu yang bernilai di sisi Allah?


Yuk baca dukung yayasan Griya bina yamuti Program 

Refleksi #2 — Allah mengawasi pekerjaan saya, ini mendorong saya untuk bekerja dengan profesional

Allah tidak hanya memberi Nabi Daud keahliannya, tetapi juga mengingatkan:

"Sesungguhnya Aku (Allah) melihat apa yang kamu kerjakan."

Kalimat ini sederhana, namun mengandung makna yang dalam. Kita sering kali merasa harus bekerja keras hanya jika ada atasan yang mengawasi, atau jika ada penilaian kinerja. Namun, ayat ini mengingatkan bahwa ada Pengawas yang jauh lebih besar: Allah sendiri.

Mungkin kita pernah bertanya, “Apakah pekerjaan saya ini cukup berarti di hadapan Allah?”

Jawabannya jelas : Ya. Allah melihat setiap usaha, setiap detail kecil yang kita lakukan. Setiap coding yang kita tulis, setiap laporan yang kita susun, setiap keputusan yang kita ambil di tempat kerja—semuanya diperhatikan oleh Allah. Tidak ada yang sia-sia.

Maka, bekerja dengan profesionalisme bukan hanya tentang memenuhi standar manusia, tetapi juga tentang memenuhi standar Allah. Jika kita sadar bahwa pekerjaan kita selalu dalam pengawasan-Nya, maka kita akan selalu berusaha memberikan yang terbaik, bukan karena takut pada manusia, tetapi karena ingin mendapatkan ridha-Nya.

Refleksi #3 — Jika saya punya kewenangan, itu harus saya gunakan untuk sebesar-besarnya manfaat bagi manusia

Allah memberikan kekuasaan luar biasa kepada Nabi Sulaiman:

وَلِسُلَيْمَـَنَ الرِِّيحَ

“Kami menyetujuikan angin untuk Sulaiman.” (QS Saba : 12)

Angin bagi Nabi Sulaiman bukan hanya sekedar hembusan udara. Ia menjadi alat transportasi yang memungkinkannya menempuh perjalanan sebulan hanya dalam satu pagi atau sore. Dengan ini, Nabi Sulaiman tidak hanya mempercepat pergerakan pasukannya, tetapi juga memperluas wilayah dakwah dan penyebaran keadilannya.

Selain itu, Allah menenangkan tembaga di atasnya dan mengarahkan jin untuk bekerja di bawah perintahnya. Mereka membangun infrastruktur megah, gedung-gedung tinggi, hingga perlengkapan besar untuk masyarakatnya. Jika kita melihat dari perspektif modern, apa yang dilakukan Nabi Sulaiman adalah cikal bakal dari pengembangan teknologi transportasi dan infrastruktur yang mempermudah kehidupan manusia.

Dari sini kita belajar bahwa kekuasaan atau wewenang bukan sekedar untuk kepentingan pribadi. Jika Allah memberi kita posisi penting—baik itu dalam pekerjaan, dalam komunitas, atau bahkan dalam keluarga—itu adalah amanah untuk menciptakan manfaat bagi orang lain. Seperti Nabi Sulaiman yang menggunakan otoritasnya untuk membangun dan mempermudah kehidupan banyak orang, kita juga harus memanfaatkan keahlian dan pengaruh kita untuk berkontribusi pada kemajuan umat manusia.

Apakah kita sudah menggunakan otoritas kita dengan benar? Jika kita seorang pemimpin tim, apakah kita membantu tim berkembang? Jika kita punya bisnis, apakah kita menggunakannya untuk memberikan manfaat yang lebih luas? Jika kita punya ilmu, apakah kita membagikannya kepada yang membutuhkan? Seperti Nabi Sulaiman, kita harus melihat setiap peluang sebagai kesempatan untuk berbuat kebaikan yang lebih besar.

Baca amalan dibulan Syaban : Amalan bulan syaban

Refleksi #4 — Apa pun profesi saya, semuanya bisa menjadi jalan untuk beramal shaleh

Terkadang kita berasumsi bahwa hanya pekerjaan besar atau yang tampak “religius” yang bernilai ibadah. Padahal, Allah tidak membatasi bentuk amal yang bisa kita lakukan.

Nabi Daud hidup di era peperangan dan pembangunan kerajaan. Pekerjaannya fokus pada persiapan pemeliharaan, pembuatan baju besi, serta pembangunan kekuatan militer yang diperlukan untuk menegakkan keadilan. Sementara itu, Nabi Sulaiman hidup di era pembangunan dan kemakmuran. Ia mengembangkan infrastruktur, transportasi, dan sistem pemerintahan yang efisien. Dua jenis pekerjaan ini sangat berbeda, tetapi keduanya memiliki nilai di sisi Allah.

Begitu juga dengan kita. Apa pun profesi kita—guru, insinyur, dokter, desainer, penulis, atau seniman—semuanya bisa menjadi jalan untuk amal saleh. Setiap era memiliki tantangannya sendiri, dan setiap bidang pekerjaan memiliki kontribusinya bagi kehidupan. Kuncinya ada pada niat. Jika kita bekerja dengan niat untuk memberikan manfaat bagi orang lain dan mencari ridha Allah, maka pekerjaan kita berubah dari sekedar tugas duniawi menjadi ibadah.

Jangan pernah meremehkan keahlian yang kita miliki. Teknologi, ekonomi, ilmu sosial, seni—semuanya bisa menjadi alat untuk membawa kebaikan yang lebih besar. Yang penting adalah bagaimana kita memanfaatkan dan bagaimana kita memahami peran kita dalam membangun peradaban.

Refleksi #5 — Saya bekerja sebagai bentuk syukur kepada Allah

Allah tidak sekedar memberi nikmat, namun juga mengingatkan kita bagaimana cara mensyukurinya:

اعمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكرًا

"Bekerjalah, wahai keluarga Daud, untuk bersyukur." (QS Saba : 13)

Bersyukur tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga dibuktikan dengan tindakan. Salah satu cara terbaik untuk bersyukur atas karunia Allah adalah dengan bekerja sebaik mungkin.

Nabi Daud dan Nabi Sulaiman diberi keahlian, teknologi, dan kekuasaan. Tapi yang mereka lakukan bukanlah berdiam diri atau bersenang-senang. Mereka bekerja keras membangun peradaban, menciptakan infrastruktur, dan mengelola sumber daya yang ada untuk kesejahteraan masyarakat.

Begitu juga dengan kita. Jika kita diberi keahlian, gunakanlah itu untuk kebaikan. Jika kita diberi pekerjaan, lakukanlah sebaik mungkin. Jika kita diberi ilmu, bagikanlah kepada orang lain. Semua itu adalah bentuk syukur kepada Allah yang akan mendatangkan berkah yang lebih besar.

Karena pada akhirnya, terima kasih bukan sekedar ucapan. Syukur adalah kerja nyata yang menunjukkan bahwa kita benar-benar menghargai nikmat yang telah Allah berikan.

Langkah Praktis

  1. Identifikasi keahlian yang kita miliki dan bagaimana keahlian itu dapat dimanfaatkan untuk amal saleh.

  2. Ingatlah selalu bahwa Allah melihat setiap pekerjaan yang kita lakukan, sehingga bekerja dengan profesionalisme adalah bagian dari ibadah.

  3. Jika memiliki kewenangan atau pengaruh dalam pekerjaan, gunakanlah untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi manusia.

  4. Jangan meremehkan nilai pekerjaan diri sendiri atau orang lain, karena setiap zaman dan profesi memiliki peran penting dalam kehidupan.

  5. Jangan mendikotomi antara “urusan dunia” dan “urusan akhirat”, karena pada hakikatnya semua hal itu bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar.

  6. Bekerja dengan niat sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah , bukan sekadar untuk mencari materi atau pengakuan manusia.

  7. Berusaha membangun keterampilan dan ilmu yang lebih baik agar pekerjaan yang dilakukan semakin bernilai dan bermanfaat bagi banyak orang.

  8. Menyisihkan waktu untuk refleksi dan evaluasi diri , memastikan bahwa pekerjaan yang dilakukan masih sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai Islam.


Disarikan Jurnal Best Quran

Sedekah, donasi :
BSI : 2217081947
An Yayasan Griya Bina yamuti

#sedekahsubuh
#peduliiyatimdhuafa #sedekahuntuk237yatimdhuafa binaan #SedekahIftar

Share:

7 Nilai penting Puasa Qadha

 


7 NILAI SEPUTAR PUASA QADHA RAMADAN


1. Niat Puasa Qadha

Niat puasa qadha wajib dilakukan di malam hari sebelum fajar. Hal ini berbeda dengan puasa sunnah, yang niatnya boleh dilakukan di siang hari, asalkan belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya."

(HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

2. Waktu Menunaikan Puasa Qadha

Puasa qadha dapat dilakukan kapan saja sepanjang tahun hingga sebelum Ramadan berikutnya tiba. Namun, disunnahkan untuk menyegerakannya setelah Ramadan berlalu, kecuali ada udzur tertentu.

3. Apakah Harus Berturut-Turut?

Puasa qadha tidak harus dilakukan secara berturut-turut. Kita boleh mengqadhanya secara terpisah sesuai kemampuan. Hal ini berdasarkan firman Allah:

"Maka barang siapa di antara kamu yang sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain." (QS. Al-Baqarah: 184)

4. Puasa Qadha Bersamaan dengan Puasa Sunnah

Sebagian ulama membolehkan menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa sunnah, seperti puasa Senin-Kamis. Namun, pahala yang didapat hanya untuk puasa wajib (qadha), sedangkan puasa sunnah dianggap sebagai tambahan niat yang mengiringi.

5. Puasa Qadha Bagi yang Belum Mengqadha hingga Ramadan Berikutnya

Jika seseorang tidak mengqadha puasa Ramadan hingga Ramadan berikutnya tanpa udzur, ia berdosa dan tetap wajib mengqadha puasanya setelah Ramadan kedua selesai. Sebagian ulama juga menyarankan untuk membayar fidyah sebagai tambahan kaffarah.

6. Hukum Membatalkan Puasa Qadha

Membatalkan puasa qadha tanpa alasan yang jelas adalah makruh dan tidak disukai. Jika seseorang membatalkan puasanya, ia tetap wajib mengganti hari itu di hari lain.

7. Keutamaan Menunaikan Puasa Qadha

Puasa qadha adalah bentuk ketaatan dan tanggung jawab seorang Muslim kepada Allah. Menunaikan kewajiban ini menunjukkan kesungguhan kita dalam menjalankan syariat-Nya.

🌟 Tips Menyelesaikan Puasa Qadha dengan Lancar

Buat jadwal khusus untuk mengganti puasa, ingat sebentar lagi 19 hari menuju Ramadhan 1446h

Mulai dengan niat yang kuat dan hindari menunda-nunda.

Libatkan keluarga atau teman untuk saling mendukung dalam ibadah.

Semoga Allah menerima ibadah puasa qadha kita dan memberi kemudahan untuk melaksanakan kewajiban ini dengan ikhlas dan sempurna. Aamiin.

Sedekah, donasi terbaiknya:

BSI:2217081947

An Yayasan Griya bina yamuti

#peduliyatimdhuafajompo

Share:

Bulan Sya’ban adalah bulan diantara Rajab dan Ramadan

 

 

“Bulan itu (Sya‘ban) adalah bulan yang dilupakan manusia, berada di antara Rajab dan Ramadhan. Dan ia adalah bulan diangkatnya amal ibadah kepada Tuhan Pemilik Semesta Alam, maka aku (Nabi Muhammad) suka amal ibadahku diangkat ketika aku berpuasa”. (HR. an-Nasa’i)


Bulan Sya’ban adalah bulan diantara Rajab dan Ramadan. Sehingga bulan Sya’ban dikatakan sebagai bulan latihan beramal sebelum memanen pahala di bulan Ramadan.

 

Rasulullah saw. banyak melakukan puasa sunah di bulan Sya’ban sebagai bentuk latihan dan pemanasan sebelum melakukan puasa sebulan penuh di bulan Ramadan. Hal itu disampaikan dalam sebuah hadis yang diiriwayatkan oleh Abu Daud berikut ini:

 

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. menyelesaikan puasa hingga satu bulan kecuali saat Ramadan, dan aku tidak pernah melihatnya berpuasa sebanyak di bulan Sya'ban."

 

Selain dianjurkan memperbanyak puasa sunah di bulan Sya’ban, rupanya ada beberapa peristiwa penting yang terjadi di masa Rasulullah di bulan ini. Apa sajakah peristiwanya? Berikut penjelasannya yang telah redaksi himpun dari berbagai sumber!

 

1. Terjadi Perubahan Arah Kiblat

 

Di bulan Sya’ban, terjadi perubahan arah kiblat bagi umat Islam yang awalnya menghadap ke Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsha, kemudian berubah ke Masjidil Haram.

Umat Islam kala itu telah menghadap kiblat ke Baitul Maqdis selama 17 bulan 3 hari sebelum turun ayat-Nya berikut ini:

 “Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu.” (Q.S. Al-Baqarah: 144).

 

2. Diturunkannya Perintah Berselawat

 

Selain perpindahan arah kiblat, di bulan Sya’ban pun terjadi perintah berselawat kepada Rasulullah saw. bagi umat Islam di seluruh dunia. Perintah tersebut ada dalam firman-Nya berikut ini:

 

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (Q.S. Al-Ahzab: 56).

 

3. Diangkatnya Amal Manusia

 

Peristiwa lainnya di masa Rasulullah saw. yang terjadi di bulan Sya’ban adalah diangkatnya amal manusia di bulan ini. Amal manusia diangkat untuk diperlihatkan dan ditunjukkan kepada Allah Swt.

 

Dari Usamah bin Zaid r.a., “Wahai Rasulullah aku belum pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban? Rasul menjawab, Itu bulan yang terletak antara bulan Rajab dan Ramadan serta banyak orang lalai padanya. Dialah bulan diangkatnya amal kepada rabbil ‘alamin (Tuhan Pemelihara alam raya). Aku senang amalku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (H.R. An Nasa’i).

 

Meski begitu, pengangkatan amal manusia tidak hanya terjadi di bulan Sya’ban saja, tetapi ada beberapa waktunya. Dalam hadis lainnya, dikatakan bahwa pengangkatan amal manusia ada yang terjadi pada hari Senin dan Kamis.

 

"Setiap minggunya, semua amal perbuatan manusia ditunjukkan (kepada Allah) sebanyak dua kali, yakni pada hari Senin dan hari Kamis. Lalu, setiap hamba yang beriman diampuni, kecuali hamba yang sedang bermusuhan dengan saudaranya." (H.R. Muslim).

 

4. Turunnya Perintah Berpuasa Ramadan

 

Di bulan Sya’ban pun turun perintah Allah Swt. kepada umat Islam untuk menjalankan puasa Ramadan selama sebulan penuh. Perintah ini termaktub dalam surah Al-Baqarah ayat 183 berikut ini:

 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

 

Itulah beberapa peristiwa penting di Masa Rasulullah saw. yang terjadi di bulan Sya’ban. Semoga informasi ini bisa menambah wawasan keislaman Ayah Bunda Sahabat.

 

Jangan lupa tunaikan sedekah agar hidup semakin berkah. Dengan bersedekah, selain membuat hati kita bahagia, kita pun bisa membahagiakan orang lain. Mari isi Syaban ini #Meraihberkah bersama Yayasan griya bina yamuti, sedekah melalui Rekening BSI : 2217081947 an Yayasan Griya Bina Yamuti.  

 

#pedulisesama #peduliyatim #pedulidhuafa #sedekah #donasi #fidyah #sedekahyuk

 

Share:

Amalan Bulan Syaban


Umat Islam mulai memasuki salah satu bulan yang utama dalam Islam, yaitu bulan Syaban. Pengurus Falakiyah Besar Lembaga Nahdlatul Ulama (LF PBNU) telah mengumumkan bahwa awal bulan Syaban 1446 H jatuh pada Jumat (31/1/2025). 1 Syaban 1446 H.

Pada bulan Syaban ini, umat Islam melakukan berbagai persiapan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Bulan Syaban adalah waktu yang sangat baik untuk meningkatkan ibadah sebagai persiapan menyambut Ramadhan. 


Lalu bagaimana cara meningkatkan ibadah di bulan Syaban untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan?  

Syuriah PBNU sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis membagikan tips meningkatkan ibadah untuk menyambut datangnya Ramadhan.


1. Berpuasa Sunnah

Kiai Cholil mengatakan, Rasulullah SAW berangkat di bulan Syaban dengan banyak kepuasan. Menurut dia, hampir 12 bulan itu hanya bulan Ramadhan yang diwajibkan berpuasa penuh. 


Baca : Doa Dimudahkan Segala Urusan


Tapi di satu bulan yang paling berpuasa adalah bulan Syaban. Tapi di akhir-akhir Nabi tidak sholat, tidak puasa, ucap dia. 

Dia menambahkan, Nabi ingin amalnya diangkat pada saat ia berpuasa. Karena, di bulan Syaban ada menampilkan amal yang diperlihatkan kepada Allah SWT. 


2. Baca Doa Menyambut Ramadhan

Kiai Cholil juga mengajar umat Islam membaca doa Nabi. Menurut dia, doa ini dari hadis dhaif, tetapi untuk Fadhailul A'mal Imam Syafi'i menggunakannya.

اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان

 Latin: Allahumma Barik lana fi Rajab wa Sya'bana wa ballighna Ramadhan

Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.”

Dengan menjalankan amalan ini, hati dan jiwa akan lebih siap menyambut Ramadhan dengan penuh keberkahan.


3. Perbanyak Istighfar dan Amal Saleh

Kiai Cholil menjelaskan, di bulan-bulan sebelum Ramadhan perlu melakukan persiapan karena banyak orang lalai. Nabi pun menyiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadhan. 

"Nabi banyak istighfar di bulan ini. Dan Nabi banyak beramal soleh di bulan Syaban. Sehingga kita menyiapkan diri untuk terus yang terbaik menuju bulan Ramadhan," jelas Kiai Cholil. 

Syaban adalah waktu yang tepat untuk membersihkan hati sebelum memasuki Ramadhan. Perbanyak membaca istighfar agar Ramadhan bisa dijalani dengan hati yang bersih.  

Membiasakan diri bersedekah sebelum Ramadhan juga akan melatih hati agar lebih dermawan saat bulan suci tiba. 

 

Dukutip _Republika khazanah_


Rek donasi, sedekah:

BSI:2217081947

An Yayasan Griya Bina Yamuti


#PeduliYatimDhuafa #sedekahIfthar

#sedekahRenovasiMasjidJamiAlikhlas

#WakafAlQuran #SedekahMukena&kemeja,Sarung


Share:

Kegiatan Bulan Desember

Label

Kegiatan Terbaru

Maksiat Menghalangi ketaatan.

Hati manusia memiliki cahaya yang membuatnya mampu melihat kebenaran dan membedakan jalan kebaikan. Namun, cahaya itu dapat tertutup ol...

Label

artikel (1) berita (13) cinta tanah air momen kemerdekaan (2) dan Kegiatan Silaturahim Penerima Manfaat anak-anak yatim piatu Binaan (2) doa akhir tahun & awal tahun (1) donasiyatim (17) Dongeng (6) Dzulqa'dah (1) gerebek (15) Hikmah kelompok yang tidak diwajibkan solat (2) Hikmah orang yang Bakhil (1) hikmah Selepas Ramadhan (1) infak (7) Inspirasi (3) inspirasi silataruhiim pembukaan rekening Bank Bagi anak-anak yang dimuliakan Rasullulloh (1) Inspirasi tentang liburan lebih produktif (1) jumatberkah (15) kajian (1) kegiatan (31) Kegiatan Peresmian Majlis Penghapal Alqur'an Al Hafidz Oleh Pj.walikota Sukabumi (1) Keistimewaan Rajab (1) kisah Uwais Alqarni Penghuni Langit (1) Kurban 1445H (1) Laporan kegiatan Tahunan (1) Literasi (44) Literasi Dunia Islam (1) Literasi Dunia Islam peristiwa penting diBulan Rajab (1) Literasi Puasa Qadha Ramadhan (1) Literasi Tips jaga keluarga harmonis (1) Ngaji online (1) pembangunan (4) Pembinaan Diri (1) pengajian (2) Penyaluran infak zakat sedekah (1) Peringatan Hari besar Islam Maulid Nabi Muhammad Saw 1446 H / 27 sep 2024 M (1) program (4) program Bina Taqwa (3) Program kado lebaran dan THR Yatim dan Keluarga Pra Sejahtera (1) Program Kurban (1) program muharram (2) progres pembangunan Tahap 3 Ruang MPQ (1) qurban (6) ramadhan (1) Ramadhan Amalan Ramadahan (1) rumahbelajar (3) santunan (14) Sedekah Al-Qur'an (1) sedekahjumat (5) sedekahyatim (3) Tadabur (1) Tadarus (1) tentang bulan syawwal (1) tentang pristiwa di bulan syawwal (1) yamuti (2) yatimdhuafa (1) yatimpeduli (2) yatimpeduliu (1) zakat (3)