Hebatnya Sedekah di Balik Rintihan Sakaratul Maut Sahabat Nabi

Hebatnya Sedekah di Balik Rintihan Sakaratul Maut Sahabat Nabi

Rasulullah SAW mengungkap rahasia di balik ucapan terputus-putus seorang sahabat menjelang ajalnya yang sempat membuat sang istri kebingungan. Dalam kisah yang dikutip dari buku 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW, terungkap bahwa setiap kalimat yang diucapkan saat sakaratul maut  merupakan bentuk penyesalan sang sahabat karena tidak memberikan amal terbaiknya saat melihat besarnya balasan pahala di akhirat.

Pada suatu ketika, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW meninggal. Kemudian, Rasulullah SAW mengantarkan jenazahnya hingga pemakaman. 

Pulang dari pemakaman, Rasulullah SAW melayat keluarga almarhum. Beliau menghibur mereka dan berpesan agar tetap bersabar dan tawakal menghadapi musibah tersebut. "Apakah sebelum meninggal, almarhum mewasiatkan sesuatu?” tanya Rasulullah SAW.
“Aku mendengar ia mengatakan sesuatu di antara napasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal,” jawab istri dari sahabat Rasul yang meninggal.
Rasulullah SAW bertanya lagi, “Apa yang dikatakannya?” Istri dari sahabat Rasul yang meninggal menjawab, "Aku tidak tahu, wahai Rasulullah. Apakah ucapannya itu sekadar rintihan sebelum meninggal, ataukah ia kesakitan karena dahsyatnya sakaratul maut. Aku tidak bisa menangkap ucapannya karena terputus-putus.”
Rasulullah SAW bertanya lagi, “Apa yang ia ucapkan?” Ia menjawab, "Andai lebih lama lagi, andai yang masih baru, andai semuanya. Hanya kata-kata itu yang tertangkap telingaku. Sungguh aku tidak tahu maksudnya."
Rasulullah SAW tersenyum kemudian bersabda, "Sungguh, ucapan suamimu itu benar adanya. Seperti ini ceritanya. Suatu hari, ia berjalan cepat ke masjid untuk menunaikan shalat Jumat. Di tengah jalan, ia berjumpa dengan orang buta yang juga hendak ke masjid."
"Orang buta itu berjalan tersandung-sandung karena tidak ada yang menuntun. Maka, suamimu membimbingnya sampai ke masjid. Ketika hendak menghembuskan napas terakhirnya, ia melihat pahala amal salehnya itu sehingga ia berkata, ‘Andai lebih lama lagi’. Maksudnya, seandainya dulu ia menuntun orang buta itu lebih lama lagi, pasti pahalanya lebih besar."

"Kalimatnya yang kedua ia ucapkan karena suatu hari ia pergi ke masjid pagi-pagi di tengah cuaca yang sangat dingin. Di tepi jalan, ia melihat seorang laki-laki tua duduk dengan tubuh menggigil. Hampir saja, orang tua itu mati kedinginan. Kebetulan, suamimu mengenakan dua buah mantel, yang lama dan yang baru.
Rasulullah SAW berkata, “Apakah kau masih ingat, suatu hari suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan minta disediakan makanan? Kau pun bergegas menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur daging dan mentega. Namun, saat hendak memakannya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong.
Sepotong diberikan kepada musafir itu dan sepotong lainnya ia makan sendiri. Menjelang wafat, suamimu menyaksikan betapa besar pahala amalnya itu sehingga ia menyesal dan berkata, ‘Kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak hanya kuberi separo. Sebab, andai semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti pahalaku akan berlipat ganda'."

Uploaded Image

Demikian kisah Nabi Muhammad SAW ketika menerjemahkan ucapan sahabatnya yang sedang sakaratul maut dan melihat amal pahalanya.
Share:
Kisah Rasulullah SAW Menghibur

 Anak Yatim di Hari Raya Idul Fitri

Sikap Rasulullah membuat kesedihan anak itu hilang.
Di tengah suasana sukacita Idul Fitri, ada kalanya kebahagiaan tidak dirasakan oleh semua orang, terutama mereka yang kehilangan orang tercinta. Sebuah kisah di masa Nabi Muhammad SAW menggambarkan bagaimana kasih sayang mampu mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan. Dalam peristiwa itu, Rasulullah SAW menunjukkan kepedulian mendalam kepada seorang anak yatim yang larut dalam duka di hari raya, hingga akhirnya senyum kembali menghiasi wajahnya.

Dikisahkan, suatu ketika di zaman Nabi Muhammad SAW ada seorang anak kecil yatim yang sedang bersedih di momen hari raya Idul Fitri. Kemudian perlakuan Rasulullah SAW terhadap anak yatim tersebut membuat kesedihannya hilang dan berubah menjadi bahagia.

Kisahnya, pada suatu hari ketika Idul Fitri, Nabi Muhammad SAW biasanya mengunjungi rumah ke rumah untuk mendoakan kaum Muslim. Di perjalanan, Nabi Muhammad SAW melihat banyak anak-anak sedang bermain dan tertawa. Mereka bermain sambil berlari-lari mengenakan pakaian bagus, mereka semua tampak senang dan bahagia.
Tiba-tiba, Nabi Muhammad SAW melihat di ujung jalan seorang anak gadis kecil duduk bersedih. Anak itu terlihat memakai pakaian tambal-tambal dan sepatu usang. Nabi Muhammad SAW bergegas menghampirinya. 

Anak gadis kecil ini menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis tersedu-sedu. Nabi Muhammad SAW meletakkan tangannya dengan penuh kasih pada kepala anak gadis kecil itu sambil bertanya dengan suara yang lembut, "Anakku, mengapa kamu menangis? Ini adalah hari raya bukan?"
anak gadis kecil itu terkejut. Tanpa berani mengangkat kepala dan melihat siapa yang bertanya. Sambil menjawab terbata-bata, anak gadis itu berkata, "Di hari raya ini semua anak merayakannya penuh gembira bersama orang tuanya. Semua anak bermain senang. Namun, aku teringat ayahku yang telah tiada. Karena itulah aku menangis. Hari raya terakhir, ia masih ada bersamaku. Ia membelikanku gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Saat itu, aku sungguh berbahagia."
Anak gadis kecil itu melanjutkan ceritanya, "Kemudian, suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah hingga ia terbunuh. Kini, ayahku tiada. Aku menjadi anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu untuk siapa lagi?"

Mendengar cerita anak gadis itu, seketika hati Nabi Muhammad SAW diliputi duka yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang, Nabi Muhammad SAW membelai kepala anak gadis itu sambil berkata, "Anakku, hapuslah air matamu, apakah kau ingin aku menjadi ayahmu? Apakah kau suka jika Fatimah menjadi kakak perempuanmu dan Aisyah menjadi ibumu? Bagaimana, Anakku?"
Mendengar kata-kata itu, anak gadis itu kaget, dan berhenti menangis. Anak gadis itu menyadari yang berbicara dengannya adalah Rasulullah SAW. Anak gadis itu tentu saja sangat senang mendengar penawaran Rasulullah.

Kemudian, anak gadis itu berjalan bergandengan tangan dengan Nabi Muhammad SAW ke rumah beliau. Hatinya diliputi kebahagiaan yang sulit dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangan Rasulullah SAW yang lembut bagai sutra.

Tiba di rumah Rasulullah SAW, Fatimah membersihkan wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu menyisir rambutnya. Ia dipakaikan gaun yang indah, diberi makanan, juga uang saku untuk hari raya. Kemudian ia diantar keluar, agar dapat bermain dengan anak-anak lain. 

anak gadis yang tadinya murung dan menangis, kini bisa ikut bermain dan bahagia dengan anak-anak lainnya. Hingga anak-anak lain heran melihatnya, karena menjadi bahagia setelah sebelumnya menangis karena sedih.

Dikutip dari Republika online Islam digest 21 Maret 2026


 
Share:

2 FUNGSI UTAMA ZAKAT FITRAH MENURUT HADIS HASAN SAHIH




2 FUNGSI UTAMA ZAKAT FITRAH MENURUT HADIS HASAN SAHIH

Bulan Ramadan yang penuh berkah kini perlahan menuju penghujung. Selain dipenuhi dengan ibadah salat, tadarus, dan sedekah, ada satu kewajiban paripurna yang menjadi penutup manis rangkaian ibadah puasa kita: zakat fitrah.

Zakat fitrah bukan sekadar rutinitas tahunan menjelang Lebaran, melainkan wujud syukur atas selesainya ibadah puasa dan bukti nyata kepedulian kita terhadap sesama muslim yang membutuhkan. Jangan sampai kita terlupa, karena keterlambatan dalam menunaikannya justru bisa mengurangi kesempurnaan ibadah puasa kita sebulan penuh.

Mengapa Zakat Fitrah Begitu Penting?

Secara syariat, zakat fitrah memiliki dua fungsi utama yang sangat mulia:

1. Penyempurna Ibadah Puasa: Zakat fitrah berfungsi sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor yang mungkin tak sengaja terucap selama bulan Ramadan.

2. Memberi Makan Orang Miskin: Ibadah ini memastikan bahwa di hari kemenangan nanti, tidak ada satu pun saudara muslim kita yang kelaparan. Kita berbagi kebahagiaan agar semua orang bisa merayakan Idulfitri dengan perut kenyang dan hati yang riang.

Kedua fungsi luar biasa ini bersandar pada sabda Nabi ﷺ dari riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma: Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, serta sebagai makanan bagi orang miskin." (HR. Abu Dawud No. 1609 dan Ibnu Majah No. 1827. Hadis ini berderajat Hasan menurut Syekh Al-Albani).

Waktu Terbaik Menunaikan Zakat Fitrah

Sesuai dengan sunah, waktu penunaian zakat fitrah yang paling utama adalah setelah terbit fajar pada hari Idulfitri, tepatnya sebelum salat Id dimulai.

Namun, demi kemaslahatan dan agar distribusi ke penerima manfaat lebih efektif, mayoritas ulama memperbolehkan zakat fitrah ditunaikan sejak awal bulan Ramadan atau beberapa hari sebelum Idulfitri tiba. Jangan menunda hingga malam takbiran atau mepet saat salat Id akan dimulai, karena hal itu berisiko membuat distribusi zakat ke fakir miskin menjadi terlambat dan tidak tepat sasaran. Segera tunaikan sekarang!

Cara Mudah Menunaikan Zakat Fitrah

Di era sekarang, menunaikan zakat menjadi jauh lebih praktis:

Melalui Masjid/Panitia Zakat (Amil): Anda bisa menyalurkan langsung kepada panitia amil zakat di masjid atau musala lingkungan terdekat agar manfaatnya dirasakan tetangga sekitar.

Melalui Lembaga Amil Zakat (LAZ) Resmi: Anda juga dapat menyalurkan zakat secara online melalui lembaga tepercaya yang memiliki sistem transparansi penyaluran yang baik.

Besaran Nominal: Tunaikanlah sesuai dengan ketentuan syariat, yakni beras atau bahan makanan pokok seberat 2,5 kg atau 3,5 liter per jiwa. Jika ingin membayar dengan uang tunai, sesuaikanlah dengan nominal yang telah ditetapkan oleh BAZNAS atau fatwa MUI di wilayah domisili Anda.

Mari Berbagi, Mari Berzakat

Kebahagiaan Idulfitri akan terasa jauh lebih bermakna jika kita bisa merayakannya bersama-sama tanpa ada yang kesusahan. Dengan menunaikan zakat fitrah, kita tidak hanya menggugurkan kewajiban agama, tetapi juga sedang mengetuk pintu langit dengan amal kebaikan dan rasa empati yang tulus.

Yuk, sempurnakan puasa kita dengan zakat fitrah!
Share:

SERING LUPA PAS BERDIRI DI SAFF? INI TATA CARA LENGKAP SALAT IDULFITRI

SERING LUPA PAS BERDIRI DI SAFF? INI TATA CARA LENGKAP SALAT IDULFITRI

Salat Idulfitri memang cuma setahun sekali. Jadi, wajar banget kalau kadang suka nge-blank alias lupa pas sudah berdiri di saf. Berapa kali takbir tambahan ya? Terus di sela-sela takbir baca apa?

Supaya ibadahnya khusyuk dan gak celingukan mengikuti gerakan orang di sebelah, mending refresh lagi ingatan soal tata caranya. Semuanya sudah ada panduannya langsung dari Rasulullah ﷺ, lho!

Yuk, simak urutan salat dua rakaat ini supaya makin mantap melangkah ke masjid atau lapangan:

Rakaat Pertama:

1. Takbiratul Ihram: Mulai gerakan salat seperti biasa.

2. 7 Kali Takbir Tambahan (Zawa-id): Sebelum membaca Al-Fatihah, imam akan bertakbir sebanyak 7 kali. Sangat disunnahkan untuk mengangkat tangan di setiap takbirnya. Ibnul Qayyim mengutip kebiasaan sahabat Nabi: "Ibnu Umar yang dikenal sangat meneladani Nabi ﷺ biasa mengangkat tangannya dalam setiap takbir."

3. Bacaan Jeda Takbir: Di sela-sela takbir, ada bacaan zikir pujian. Syaikhul Islam menyebutkan bacaan dari para ulama salaf yang berbunyi:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي 

"Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahummaghfirlii war hamnii." 
(Maha Suci Allah, segala puji bagi-Nya, tiada tuhan selain Allah. Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah aku).

4. Surah Pilihan: Setelah selesai membaca Al-Fatihah, disunnahkan membaca Surah Qaaf atau Surah Al-A'la.

(Setelah itu, lakukan gerakan ruku, sujud, dan seterusnya hingga bangkit ke rakaat kedua).

Rakaat Kedua: 

5. Takbir Bangkit dari Sujud: Lakukan takbir intiqal biasa untuk berdiri. 

6. 5 Kali Takbir Tambahan (Zawa-id): Di rakaat kedua ini, takbir tambahannya hanya 5 kali sebelum mulai membaca Al-Fatihah. Jeda antar takbirnya diisi dengan zikir yang sama persis seperti di rakaat pertama tadi. 

7. Surah Pilihan: Setelah Al-Fatihah, sunnahnya membaca Surah Al-Qamar atau Surah Al-Ghasyiyah. 

8. Salam: Selesaikan seluruh sisa gerakan salat hingga salam! ✨

Anjuran bacaan surah di atas itu bersumber langsung dari hadis sahih riwayat Imam Muslim.

Dari riwayat sahabat Umar bin Khattab saat bertanya ke Waqid Al-Laitsiy soal kebiasaan Nabi ﷺ:

"Nabi ﷺ biasa membaca 'Qaaf, wal qur'anil majiid' (Surah Qaaf) dan 'Iqtarobatis saa'atu wan syaqqol qomar' (Surah Al-Qamar)." (HR. Muslim No. 891)

Ada juga opsi surah lain berdasarkan hadis dari An-Nu'man bin Basyir:

"Rasulullah ﷺ biasa membaca dalam salat Ied maupun salat Jumat 'Sabbihisma robbikal a'la' (Surah Al-A'laa) dan 'Hal ataka haditsul ghosiyah' (Surah Al-Ghasyiyah)." (HR. Muslim No. 878)

Sudah kebayang urutannya, kan?
Share:

ROMADAN TINGGAL MENGHITUNG HARI, SUDAH LAKUKAN 5 HAL INI?

Sahabat, sadar gak kalau kita sudah memasuki bulan Sya'ban? Tidak terasa, bulan suci Ramadan tinggal menghitung hari untuk kita memasukinya.

Jangan sampai kita kaget saat tamu agung itu datang. Mari bersemangat dan lakukan 5 hal penting ini:

1. Melunasi Utang Puasa 

Ini yang paling krusial. Jangan sampai lalai dengan utang puasa tahun lalu. Jika di Ramadan sebelumnya ada puasa yang tak tertunai karena halangan, sakit, atau dalam perjalanan, ayo segera dibayar (qada) sekarang juga mumpung masih ada waktu.

2. Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Sya'ban 

Rasulullah ﷺ banyak berpuasa sunnah di bulan Sya'ban. Memperbanyak puasa sunnah saat ini merupakan "pemanasan" atau latihan bagi fisik dan hati kita agar tidak kaget dan siap menjalani puasa sebulan penuh di bulan Ramadan nanti.

3. Berdoa Menyambut Ramadan 

Langitkan doa indah yang diajarkan para ulama ini:

Allahumma Sallimni Ila Ramadhan wa Sallim li Ramadhan wa Tasallamhu Minni Mutaqabbalan

Artinya: 
"Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadan, dan antarkanlah Ramadan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadan." (Lathaif Al-Ma'arif)

4. Mendalami Ilmu Tentang Ramadan 

Sangat dianjurkan jika kita kembali membuka buku catatan atau kajian tentang Ramadan. Ingat, ilmu sangat diutamakan sebelum beramal. Syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan sesuai dengan tuntunan syariat. Maka, pelajarilah kembali fikih puasa, salat tarawih, zakat, sedekah, dan ibadah-ibadah lainnya.

5. Menyambut Ramadan dengan Penuh Syukur 

Kondisikanlah hati kita untuk banyak bersyukur karena insyaallah akan segera dipertemukan kembali pada bulan suci Ramadan. Tidak semua orang beriman yang menginginkan bertemu Ramadan, Allah ﷻ sampaikan umurnya. Betapa bahagia jika kita diperkenankan bertemu Ramadan dan mengisinya dengan berbagai amal saleh terbaik.

Yuk bersama di circle yang baik, meraih ilmu, & berkah. Bersama yayasan griya bina yamuti
Share:

Menguatkan Iman di Tengah Ujian: Teladan dari Para Nabi


Dalam perjalanan hidup, ujian adalah sebuah keniscayaan bagi setiap manusia. Bahkan para Nabi yang paling dicintai Allah pun tidak luput dari cobaan berat. Hikmah ini menjadi pengingat bahwa siapa pun yang menempuh jalan kebenaran pasti akan berhadapan dengan ujian yang menguatkan iman.


Ujian Para Nabi sebagai Teladan

Al-Quran merekam kisah-kisah ujian yang menimpa para Rasul:

- Nabi Adam AS diuji konflik tragis antara putranya, Qabil dan Habil, hingga terjadi pembunuhan pertama dalam sejarah manusia (Qs. Al-Maidah: 27–31).

- Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS menghadapi kedurhakaan istri dan keluarga mereka sendiri (Qs. Hud: 42; Qs. At-Tahrim: 10).

- Nabi Ibrahim AS ditindas dan hendak dibakar hidup-hidup oleh penguasa zalim karena dakwah tauhidnya. Allah menyelamatkannya (Qs. Al-Anbiya: 69).

- Nabi Ayyub AS menderita sakit parah, namun kesabarannya membuatnya dipuji Allah (Qs. Al-Anbiya: 83; Qs. Shad: 44).

- Nabi Musa AS menghadapi kezaliman Firaun yang menindas Bani Israil hingga akhirnya Allah menenggelamkan Firaun (Qs. Al-Baqarah: 49–50).

- Nabi Muhammad SAW dihina, ditolak, dan diganggu kaumnya hingga Allah memerintahkannya berhijrah.

Dari semua kisah tersebut, tampak jelas bahwa kedekatan kepada Allah bukan jaminan bebas dari ujian, justru menjadi alasan mengapa ujian itu datang lebih dahsyat.


Hakikat Ujian Hidup

Ujian bukan untuk melemahkan, melainkan:

- Menguji keimanan dan ketakwaan

- Menyaring antara yang jujur dan yang dusta

- Menjadi jalan untuk lebih dekat pada Allah


Allah berfirman:

“Apakah manusia mengira akan dibiarkan berkata ‘Kami beriman’ tanpa diuji?”

(Qs. Al-Ankabut: 2–3)

Sikap menghadapi ujian menjadi pembeda utama antara orang sabar dan yang ingkar.


Fokus pada Sikap, Bukan Beratnya Cobaan

Ujian menimpa semua orang—kaya dan miskin, pemimpin dan rakyat jelata. Maka yang terpenting bukan besarnya cobaan, melainkan bagaimana kita meresponsnya.

Allah menjanjikan kabar gembira bagi orang yang bersabar dan mengembalikan semuanya kepada-Nya:

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…”

(Qs. Al-Baqarah: 155–156)


Sunnatullah: Sejarah yang Selalu Berulang

Allah telah menetapkan hukum kehidupan (sunnatullah) yang tidak berubah:

“Engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnatullah.”

(Qs. Al-Ahzab: 62; Qs. Al-Fath: 23)

Karena itu, perjuangan di jalan kebenaran pasti mengulang kisah para pendahulu. Maka jika cobaan datang, jangan terkejut—itulah bagian dari jalan orang-orang beriman.


Sikap yang Harus Dijaga

- Kuatkan niat awal agar tidak bergeser oleh ujian

- Sucikan diri, perbaiki langkah, dan tetap berada dalam jamaah yang saling menguatkan

- Syukuri kebersamaan, sempurnakan kekurangan bersama

- Jaga hati tetap lapang, karena Allah menguji sesuai kemampuan hamba-Nya


Penutup

Ujian adalah tanda perhatian Allah kepada hamba-Nya. Jika para Nabi saja menghadapi ujian besar, maka kita pun akan melalui hal serupa sesuai kemampuan kita.

Apa pun yang terjadi hari ini merupakan bagian dari perjalanan menuju ridha-Nya. Selama niat lurus dan langkah dijaga, setiap ujian akan menjadikan diri semakin kuat dan semakin dekat kepada Allah SWT. (H.A. Abd. Wahid)


Share:

Ngaji online

Di tengah kesibukan sehari-hari, sering kali kita lupa menyisihkan waktu untuk memperbaiki bacaan Quran. Padahal, membaca dengan benar adalah bagian dari menjaga kemurnian ibadah kita.

Program Bina Taqwa – Belajar Ngaji Online dari Yayasan Griya Bina Yamuti hadir sebagai solusi. Kamu bisa belajar tahsin Quran dengan pengajar berpengalaman, kapan saja dan di mana saja, tanpa harus meninggalkan aktivitas utama.

Materi disusun bertahap sehingga mudah diikuti, mulai dari pengenalan huruf hingga tajwid lanjutan.

Yuk, jangan tunda lagi! Jadwalkan waktu terbaikmu untuk mengaji dan raih bacaan Quran yang lebih indah.

📲 yuk ikut Daftar sekarang dan mulai perjalanan perbaikan bacaanmu!

Informasi :

Youtube :Belajar Ngaji

Ikuti tiap Senin malam selasa jam 19.30-20.30.

Informasi : 

Ibu tati kamila : 083175948129

ibu hj Nani maryani: 085793710234

Nandang S : 6283164863628



Share:

Penyaluran Infak Sedekah zakat untuk Jompo, Dhuafa, Yatim


Penyaluran Infak Sedekah zakat untuk Jompo, Dhuafa, Yatim

"Di balik senyum mereka, ada cerita perjuangan yang tak terdengar. Yuk, jadi alasan mereka bahagia hari ini."

"Setiap senyuman yatim, setiap doa jompo, setiap napas dhuafa — bisa jadi jalan pahala kita."

"Bayangkan kalau itu adalah orang tua kita, atau anak kita. Apa yang akan kita lakukan?"

Bersama yayasan griya bina yamuti, bahwa kebaikan itu nyata. Donasi, sedekah, zakat sekarang juga via:

BSI : 2217081947

BRI : 441101040976531

 an Yayasan GBY

Informasi :

Penyaluran program Gerebek (Gerakan edukasi berbagi berkah)

Penyaluran Infak, Sedekah, Zakat bagi jompo dhuafa Yatim

Lokasi penyaluran:

Dilingkungan rumah belajar YGBY

Rumah belajar kp.pangantolan desa parakanlima cikembar kab.Sukabumi & Cipoho Kota Sukabumi

Share:

Doa agar terhindar dari gangguan Mental dan Jeratan Hutang

Doa agar terhindar dari gangguan Mental dan Jeratan Hutang

Beberapa waktu terakhir, media kita


kerap memberitakan kasus bunuh diri akibat lilitan utang. Dari kepala keluarga yang tak sanggup menanggung beban cicilan, hingga anak muda yang terjerat pinjaman daring / pinjol.

Utang yang menumpuk tidak hanya menggerogoti harta, tetapi juga kesehatan mental. Utang telah melahirkan stres kronis, kecemasan, rasa gagal, hingga pikiran putus asa.

Dalam kondisi seperti ini, banyak orang mencari solusi praktis: tambahan pemasukan, negosiasi hutang, atau sekadar lari dari masalah. Namun, ada satu dimensi yang sering terlupa: doa.

Salah satu doa yang dianjurkan ialah:

اللَّهُمَّ إنِّي أعُوذُ بكَ مِنَ الهَمِّ والحَزَنِ، والعَجْزِ والكَسَلِ، والبُخْلِ والجُبْنِ، وضَلَعِ الدَّيْنِ، وغَلَبَةِ الرِّجَالِ

‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat kikir dan pengecut, dari jeratan utang yang berat, dan dari tekanan manusia lain.’” (HR. al-Bukhārī).

Doa di atas terdapat dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, di mana Nabi Saw pernah berkata kepada Abu Thalhah: “Carikanlah seorang pemuda dari anak-anakmu yang bisa melayaniku hingga aku berangkat ke Khaibar.” Maka Abu Thalhah pun membawa Anas bin Malik yang saat itu masih remaja.

Konteks hadis ini penting. Ia lahir dalam suasana perjalanan perang Khaibar, salah satu ekspedisi besar Nabi Saw. Anas yang masih muda melihat bagaimana Nabi Saw, di tengah kesibukan dan persiapan berat, tetap menjaga kekuatan batin dengan doa.

Menariknya, doa ini bukan diucapkan sekali, tetapi yukthir an yaqūluhū, yang artinya sering beliau ulang-ulang. Karenanya, Nabi sendiri menyadari betapa besarnya ancaman kondisi mental dan beban utang terhadap kualitas hidup seorang mukmin.

Makna Doa

Setiap lafaz doa di atas mengandung pelajaran besar. Al-hamm adalah kegelisahan terhadap sesuatu yang belum terjadi, sementara al-ḥuzn adalah kesedihan karena masa lalu. Dua hal ini sering menggerogoti jiwa dan melemahkan semangat.

Nabi Saw memohon berlindung dari keduanya karena tahu bahwa orang yang terlalu sibuk dengan masa lalu atau terlalu cemas dengan masa depan akan kehilangan tenaga untuk hidup hari ini.

Selanjutnya Nabi Saw berlindung dari al-‘ajz (kelemahan) dan al-kasal (kemalasan). Keduanya menghalangi produktivitas seorang Muslim. Disusul al-bukhl (kikir) dan al-jubn (pengecut), dua sifat yang merusak hubungan sosial dan mengerdilkan jiwa.

Menurut syarah Abu ‘Abd al-Rahman Mahir ibn ʿAbd al-Hamid dalam Syarḥ al-Du‘ā’ min al-Kitāb wa al-Sunnah, sifat-sifat itu adalah “pengganggu kehidupan” yang melemahkan tubuh, pikiran, dan hati.

Yang menarik, Nabi Saw juga berlindung dari ḍala‘ al-dayn alias jeratan utang. Utang tidak hanya menjerat finansial, tetapi juga bisa menjerumuskan pada kebohongan, ingkar janji, bahkan lalai beribadah. Tidak heran jika Rasulullah Saw begitu sering memohon perlindungan dari hal ini.

Doa itu ditutup dengan permohonan agar dijauhkan dari ghalabat al-rijāl atau penindasan manusia lain. Tekanan sosial dan ketidakadilan sering melumpuhkan jiwa. Dalam jangka panjang, dominasi seperti ini bisa memunculkan rasa lemah, dendam, bahkan keputusasaan.

Dengan demikian, Abu ‘Abd al-Rahman Mahir mengatakan bahwa Rasulullah Saw memberi teladan agar seorang Muslim tidak hanya menjaga diri dari tertindas, tetapi juga tidak menindas orang lain.

Semua yang tercantum dalam doa ini terasa begitu aktual. Kegelisahan dan kesedihan mendalam kini dikenal sebagai masalah mental yang serius. Kelemahan, kemalasan, kikir, dan pengecut bisa membuat seseorang kehilangan arah.

Utang yang menumpuk kerap menjadi penyebab utama stres, bahkan bunuh diri. Sementara tekanan sosial bisa menjerat dalam bentuk bullying, kekerasan, atau eksploitasi.

Baca :

Persiapan Dalam keadaan apa? Jika Ajal menjemput hari Ini

Doa Nabi Saw adalah terapi jiwa, perisai moral, sekaligus pengingat bahwa iman tidak hanya soal ibadah ritual, tetapi juga soal kesehatan mental dan ekonomi. Dengan doa ini, kita belajar menjaga keseimbangan antara batin, sosial, dan finansial.


Share:

MENGENAL 5 TOKOH PAHLAWAN ISLAM DIBALIK KEMERDEKAAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


 PAHLAWAN ISLAM DIBALIK KEMERDEKAAN

Kemerdekaan Negara Republik Indonesia tidak akan pernah lepas dari peran tokoh-tokoh Islam atau ulama pada masa itu. Oleh karena itu, dalam momen memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus, kita perlu mengingat kembali peran umat Islam.

Dalam sejarah, umat Islam turut serta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dan oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui bahwa umat Islam memiliki saham besar dalam perjuangan kemerdekaan.

Dari sekian banyak pahlawan Islam Indonesia, berikut ini adalah pahlawan-pahlawan Muslim yang memiliki peran penting dalam proses menuju kemerdekaan Indonesia:

1. Sultan Agung

Sultan Agung Anyokrokusumo lahir pada tahun 1591 di Yogyakarta. Ia adalah cucu dari Sutawijaya, yang lebih dikenal sebagai Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Sejak tahun 1613, Sultan Agung berkuasa di Kerajaan Mataram. Dengan kebijaksanaannya, ia berusaha mempersatukan seluruh Jawa. Wawasannya tidak terbatas pada bidang politik dan ekonomi, tetapi juga mencakup kebudayaan yang luas dan memiliki visi jauh ke depan. Sultan Agung merupakan putra Indonesia pertama yang menyerang Belanda secara teratur dan besar-besaran.

2. Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin lahir pada tahun 1631 di Ujung Pandang. Ia adalah putra kedua Sultan Malikusaid, Raja Gowa ke-15. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa saat Belanda berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah Timur Indonesia yang menguasai lalu lintas perdagangan. Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Cornelis Speelman, Belanda berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, namun belum berhasil menundukkan Gowa. Pertempuran terus berlangsung hingga Gowa semakin lemah, dan pada tanggal 18 November 1667, Gowa terpaksa mengadakan Perdamaian Bongaya dengan Belanda.

3. Tuanku Imam Bonjol

Peto Syarif, yang lebih dikenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol, lahir pada tahun 1772 di Kampung Tanjung Bunga, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Ia juga pendiri Negeri Bonjol, sebuah desa kecil yang diperkuat dengan benteng dari tanah liat. Pertentangan antara kaum adat dan kaum Paderi (kaum agama) melibatkan Imam Bonjol dalam perlawanan melawan Belanda. Belanda menyerang Sumatera Barat dan menguasai Bonjol pada tahun 1832, namun tiga bulan kemudian Bonjol berhasil direbut kembali. Setelah berulang kali mencoba selama tiga tahun, akhirnya Belanda berhasil merebut Bonjol pada tanggal 16 Agustus 1837.

4. Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro, yang nama kecilnya adalah Raden Mas Ontowiryo, lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta. Ia adalah putra Sultan Hamengkubuwono III. Pangeran Diponegoro tidak menyetujui campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan, sehingga ia bertekad melawan Belanda. Kediaman Pangeran di Tegalrejo diserang Belanda pada 20 Juli 1825. Setelah itu, Pangeran Diponegoro pindah ke Selarong, sebuah daerah berbukit-bukit yang kemudian dijadikan markas besarnya.

5. Teungku Cik Di Tiro

Muhammad Saman, yang kemudian dikenal dengan nama Teungku Cik Di Tiro, adalah pahlawan dari Aceh. Ia adalah putra dari Teungku Sjech Ubaidillah, sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Sjech Abdussalam Muda Tiro. Ia lahir pada tahun 1836, bertepatan dengan 1251 Hijriah, di Dajah Krueng, kenegerian Tjombok Lamlo, Tiro, daerah Piciie, Aceh. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat. Ketika ia menunaikan ibadah haji di Mekah, ia memperdalam ilmu agamanya. Selain itu, ia juga menjumpai pimpinan-pimpinan Islam yang ada di sana, sehingga ia mulai memahami perjuangan mereka dalam melawan imperialisme dan kolonialisme.

Share:

JIKA AJAL MENJEMPUT HARI INI, AKU DALAM KEADAAN APA?

 JIKA AJAL MENJEMPUT HARI INI, AKU DALAM KEADAAN APA?



Setiap jiwa pasti akan menemui ajalnya. Bukan soal cepat atau lambat. Tapi dalam keadaan seperti apa kita meninggalkan dunia ini?

Allah berfirman: "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan.." (QS. Ali Imran: 185)

Kematian tidak menunggu kita benar-benar siap. Ia datang tanpa aba-aba:

— Saat tidur yang tak pernah bangun

— Dalam perjalanan yang tak pernah kembali

— Di tengah sujud yang tak sempat bangkit lagi

Saat itu tiba, kita tak sempat pamit. Tak sempat membereskan yang tertunda. Tak sempat menebus semua kesalahan.

Yang tinggal hanyalah: akhir seperti apa yang kita bawa.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Seseorang akan dibangkitkan berdasarkan keadaan terakhirnya saat wafat." (HR Muslim no 2878)

Mereka yang dijemput dalam keadaan berdzikir, akan dibangkitkan dalam dzikir.

Yang wafat dalam keadaan bermaksiat, akan dibangkitkan dengan dosa itu membekas.

Karena itulah para ulama sangat takut akan su’ul khatimah, akhir yang buruk.

Iblis pernah rajin beribadah, tapi karena kesombongan, ia mengakhiri hidup dalam murka Allah.

Amal yang banyak tidak menjamin, yang penting adalah tetap taat sampai akhir.

Husnul khatimah bukan perkara beruntung. Ia adalah tanda dari kehidupan yang terus dijaga:

— Dosa yang cepat disesali

— Lisan yang biasa menyebut nama Allah

— Waktu yang sering dipakai untuk sujud

— Hati yang selalu merasa dekat dengan kematian

Allah juga berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18)

Yuk, tanya ke diri sendiri:

Kalau hari ini wafat, dalam keadaan apa aku akan pergi?

Kalau masih banyak yang belum dibereskan, kalau shalat masih sering ditunda,

kalau dosa belum juga ditinggalkan, apa aku siap kalau dijemput saat ini?

Kematian gak nunggu semua rencana selesai.

Dan gak ada jaminan masih ada waktu besok.

Semoga saat ajal datang, kita sedang berada di jalan yang benar.

Sedang kembali kepada Allah. Sedang menjaga iman. Sedang berusaha taat.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Share:

SUDAH SEJAUH MANA HIJRAH KITA?

 SUDAH SEJAUH MANA HIJRAH KITA?


Di awal tahun baru Hijriyah, ini waktu yang pas untuk mengajak diri sendiri berhenti sejenak dan bertanya: selama ini kita makin dekat dengan Allah, atau malah makin hanyut dalam urusan dunia?

Sahabat Nabi ﷺ, Hanzhalah radhiyallahu ‘anhu, pernah merasa seperti kehilangan rasa iman. Ia sampai berkata kepada Abu Bakar, “Hanzhalah telah menjadi munafik.” Kenapa? Karena saat duduk bersama Rasulullah ﷺ, ia merasa begitu hidup—seolah surga dan neraka ada di depan mata. Tapi begitu pulang ke rumah, bertemu keluarga, sibuk dengan urusan harian, semua semangat itu terasa memudar.

Abu Bakar pun jujur, ia merasakan hal yang sama. Lalu mereka menemui Rasulullah ﷺ. Apa jawaban beliau?

Beliau menjelaskan bahwa kondisi hati memang tidak akan selalu stabil. Tidak mungkin seseorang terus-menerus berada dalam puncak keimanan seperti saat sedang duduk di majelis ilmu atau dzikir. Maka Rasulullah ﷺ menegaskan: “Sesaat demi sesaat.” (HR. Muslim no. 2750) Iman memang naik turun, tapi yang penting adalah terus kembali.

Hadis ini menguatkan kita bahwa rasa futur (turunnya semangat ibadah) itu manusiawi. Yang jadi masalah bukan turunnya semangat, tapi saat kita tidak berusaha bangkit lagi.

Muharram ini, kita bisa mulai dari hal-hal kecil: shalat di awal waktu, baca Al-Qur’an meski satu halaman, dzikir sebelum tidur, atau menahan jari dari scroll yang nggak perlu.

Hijrah bukan soal berubah drastis dalam semalam, tapi soal menjaga langkah-langkah kecil secara konsisten. Karena yang kecil tapi terus dijaga, lebih bernilai daripada yang besar tapi hanya sesekali.

hijrah menjadi sebab mendapatkan rahmat Allah SWT.


Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Baqarah [2]: 218).

Semoga tahun ini jadi awal dari kebiasaan baik yang terus mengakar, dan bukan cuma semangat yang hilang setelah beberapa hari. Aamiin.

Share:

KETIKA ALLAH MEMINTA, SIAPA YANG KITA DAHULUKAN?

 KETIKA ALLAH MEMINTA, SIAPA YANG KITA DAHULUKAN?


Idul Adha tinggal menghitung hari. Pada 6 Juni nanti, takbir akan kembali menggema. Dunia akan menyaksikan jutaan jiwa mempersembahkan qurban sebagai bukti cinta, tunduk, dan taat kepada Rabb semesta alam.


Idul Adha sebagai pengingat besar, bahwa hidup ini penuh pilihan dan setiap pilihan memperlihatkan siapa yang benar-benar kita cintai. Nabi Ibrahim ‘alayhis salam pernah dihadapkan pada pilihan paling berat: antara anak yang telah lama dinanti, atau perintah Rabb yang lebih ia cintai.


Dan kita, setiap tahun diberi kesempatan untuk meneladani kisah itu. Bukan dengan menyembelih anak, tentu. Tapi dengan mengorbankan hal-hal yang selama ini kita genggam erat: mungkin ego, kenyamanan, atau bahkan sebagian harta yang terasa berat untuk dibagi. Di situlah letak ruh qurban yang sejati ketika kita mendahulukan Allah di atas segalanya.


Allah abadikan momen itu dalam QS. As-Saffat: 102, 

Ash-Shaffat · 37 Ayat 102

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٠٢

Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”


saat Ibrahim berkata bahwa Allah memerintahkannya melalui mimpi. Maka Ismail yang masih muda menjawab tanpa ragu:


“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu.”


Sebuah jawaban yang lahir dari hati yang sudah selesai dengan dunia. Dari sanalah kita belajar, bahwa qurban bukan hanya soal hewan, tapi tentang kesiapan menjalankan perintah Allah meski terasa berat.


Dan sekarang, momen itu kembali hadir.


Masih ada waktu untuk menjadi bagian dari ibadah besar ini.


Sebelum Dzulhijjah berlalu,


sebelum jatah usia habis tanpa sempat mempersembahkan yang terbaik kepada-Nya,


semoga langkah kita tak lagi tertunda.


Semoga tahun ini, nama kita termasuk di antara mereka yang menyambut panggilan qurban.


Sahabat dermawan, coba kita bayangkan wajah wajah yatim dhuafa binan Yayasan yang terus berdoa...Alhamdulillah saat ini kami baru menerima 1 ekor domba padahal ratusan harapan menggantung disana.


Waktu 3 hari lagii... jgn biarkan mereka menunda senyuman

Setiap ekor domba, sapi adalah titipan cinta dari kita untuk mereka


🐏🐃Sudah titip ditempat lain atau gak cukup uangnya ? Jangan hawatir, maaih bisa berbagi!

Kami juga menbuka sedekah daging, anda ikut menghadirkan senyum dan kebahagiaan.

Sekecil apapun sedekah ayah bunda sahabat sangat berarti bagi mereka yang jarang mencicipi daging segar.


Link Youtube:  Sedekah daging


🤲🏼 Ayo titipkan Qurbannya atau sedekah dagingnya sekarang!


Rekening  Qurban, sedekah daging:

BSI : 2217081947

An Yayasan Griya Bina yamuti



Share:

Makna & Peristiwa Bulan Dzulqodah


PERISTIWA PENTING DI BULAN DZULQA’DAH PART 2

Sahabat, kita hampir sampai di ujung bulan Dzulqa’dah. Bulan yang termasuk dalam empat bulan haram yang Allah ﷻ sebut secara khusus dalam Al-Qur’an. Bulan ini bukan bulan biasa. Di dalamnya, banyak peristiwa besar yang menjadi pelajaran bagi kita sebagai umat Islam

Setelah sebelumnya kita membahas beberapa kejadian penting, berikut dua

peristiwa lainnya yang juga terjadi di bulan Dzulqa’dah.


3. Rasulullah ﷺ Melakukan Empat Kali Umrah di Bulan Dzulqa’dah

Sepanjang hidupnya, Rasulullah ﷺ melakukan umrah sebanyak empat kali. Menariknya, keempat umrah tersebut dilakukan pada bulan Dzulqa’dah. Dalam riwayat Imam al-Bukhari disebutkan bahwa, Rasulullah ﷺ melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Dzulqa’dah: umrah dari Hudaibiyah, umrah pada tahun berikutnya, umrah dari Ji’ranah, dan umrah yang dilakukan bersama dengan hajinya. (HR Bukhari no. 4148)


Para ulama menjelaskan bahwa ini menunjukkan keutamaan melaksanakan umrah di bulan Dzulqa’dah, karena Nabi ﷺ sendiri mencontohkannya. Dzulqa’dah adalah bulan tenang, bulan haram, dan bulan yang dijadikan Rasulullah ﷺ sebagai waktu untuk memperbanyak ibadah.


4. Allah ﷻ Berfirman Langsung kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam

Dalam surah Al-A’raf ayat 143, Allah ﷻ berfirman: Ketika Musa datang untuk (bermunajat) pada waktu yang telah Kami tentukan (selama empat puluh hari) dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Dia berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka, ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) pada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Mahasuci Engkau. Aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”


Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa peristiwa agung ini terjadi di bulan Dzulqa’dah. Pendapat ini diriwayatkan dari para ulama seperti Mujahid, Masruq, dan Ibnu Juraih. Nabi Musa ‘alaihissalam dipanggil oleh Allah ﷻ untuk menerima wahyu berupa Taurat, dan pada saat itulah Allah berfirman langsung kepadanya.


Sahabat, dari dua peristiwa di atas kita bisa melihat bahwa Dzulqa’dah bukan bulan biasa. Rasulullah ﷺ memilihnya untuk menunaikan umrah, dan Allah ﷻ memilihnya sebagai waktu berbicara langsung dengan Nabi Musa ‘alaihissalam. Sudah semestinya kita pun menghormati bulan ini sebagaimana Allah ﷻ memuliakannya.


Allah ﷻ berfirman dalam surah At-Taubah ayat 36: Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu)..


Maka mari kita gunakan sisa hari-hari di bulan ini dengan sebaik-baiknya. Perbanyak istighfar, jaga lisan, bersihkan hati, dan perbanyak amal saleh. Karena dosa di bulan haram lebih berat, dan pahala kebaikan juga lebih besar.

Semoga kita termasuk orang-orang yang dimuliakan Allah ﷻ di bulan ini, dijauhkan dari dosa, dan disiapkan menyambut Dzulhijjah dengan hati yang bersih, iman yang kuat, dan amal yang diterima. Aamiin.


Rek sedekah, qurban:

BSI : 2217081947*

*BRI : 441101040976531*

 an Yayasan griya bina yamuti 

Share:

Laporan Tahunan periode 2023 dan 2024

 

Laporan Tahunan 2023 dan 2024

Selamat datang di Laporan Tahunan untuk tahun 2023 dan 2024. Laporan ini menjadi cerminan komitmen kami dalam mewujudkan visi mulia kami, yaitu Visi : Mendidik dan Membina Generasi Sejahtera dan Berprestasi 

Dalam laporan ini, menggambarkan secara mendalam tentang berbagai kegiatan dan proyek yang telah kami laksanakan sepanjang tahun. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam setiap langkah kami semoga Allah subhana wata'ala memberikan balasan serta menjadi ladang pahala bagi kita semua. Aamiin 

dalam penyusunannya tentunya masih banyak kekurangan mohon maaf!

Berikut lampiran laporan Terima kasih! Silakan klik link berikut untuk mengakses laporan:

Terima kasih! Silakan klik link berikut untuk mengakses laporan:

Terima kasih!
Untuk mengakses laporan kegiatan, silakan isi formulir verifikasi dengan mencantumkan nama dan alamat email Anda.

Setelah mengisi formulir, Anda akan mendapatkan akses ke tautan berikut:

📊 Laporan Google Slides (Versi 1):
https://docs.google.com/presentation/d/1R5H1pYP_0GkCcgC4AMwvjPZLzunnjPyq

📊 Laporan Google Slides (Versi 2):
https://docs.google.com/presentation/d/1m5PhO-5r2Sfyyc-vO_3eMy3vp5SxqNZL

📩 Catatan: Hanya email yang telah diverifikasi melalui formulir yang diperkenankan mengakses file.


Share:

Makna Dzulqa'idah dan Peristiwa penting di bulan Dzulqa'dah

 

Zulkaidah atau Dzulqo'idah (Bahasa Arab: ذو القعدة, transliterasi: Dzulqaidah), adalah bulan kesebelas dalam penanggalan Islam, hijriyah.

Ia merupakan bulan yang mengandung makna sakral dalam sejarah di mana pada bulan ini terdapat larangan berperang.


Makna kata Zulkaidah adalah 'Penguasa Gencatan Senjata' sebab pada saat itu bangsa Arab meniadakan peperangan pada bulan ini. (Wikipedia).

Asal Penamaan Secara bahasa, Dzul Qo’dah terdiri dari dua kata: Dzul, yang artinya: Sesuatu yang memiliki dan Al Qo’dah, yang artinya tempat yang diduduki.

Bulan Dzul Qa`idah --tahun ini bertepatan dengan awal Juni 2025-- adalah bulan pertama dari bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt.

Hadis Shahih Seputar Bulan Dzul Qa’dah

Dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari & Muslim)

  1. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya di bulan Dzul Qo’dah, kecuali umrah yang dilakukan bersama hajinya. Empat umrah itu adalah umrah Hudaibiyah di bulan Dzul Qo’dah, umrah tahun depan di bulan Dzul Qo’dah, …(HR. Al Bukhari)

Amalan Sunah Khusus

Adakah amalan sunah atau amalan khusus bulan Zulkaidah sesuai dengan sunnah Rasul?

Setidaknya ada dua hadits shahih tentang seputar Bulan Dzul Qa’dah dalah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Dari Abu Bakrah ra, Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari & Muslim).


Dari Anas bin Malik ra, ia mengatakan: Nabi Saw melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya di bulan Dzul Qo’dah, kecuali umrah yang dilakukan bersama hajinya. Empat umrah itu adalah umrah Hudaibiyah di bulan Dzul Qo’dah, umrah tahun depan di bulan Dzul Qo’dah" (HR. Al Bukhari).

Dari dua hadits tersebut, tidak disebutkan amalan khusus atau amalan sunah bulan Zukaidah, kecuali ditegaskan Zulkaidah merupakan salah satu dari empat bulan suci selain Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Dengan demikian, tidak ada amalan khusus yang sunah dilakukan di bulan Zulkaidah, kecuali amal shalih seperti biasa, mengamalkan kewajiban sebagai Muslim, terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan, terus berusaha meningkatkan doa dan amal kebaikan.

Berikut 4 peristiwa dalam Dzulqa'dah yang menurut Sunnatullah penting untuk diketahui: 1. Perang Bani Quraizhah Sunnatullah mengutip pendapat Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Dzulqa'dah. "Peperangan ini (Bani Quraizhah) terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun kelima (hijriah)," tulis Sunnatullah, mengutip Syekh Shafiyurrahman.

Kemuliaan Dzulqa'dah Selain peristiwa penting yang terjadi, terdapat kemuliaan-kemuliaan dalam bulan Dzulqa'dah. Muhammad Sunandar dalam tulisannya yang dimuat di NU Online berjudul Bulan Dzulqa’dah dan Keutamaannya menyebutkan bahwa ada 4 kemuliaan pada Dzulqa'dah. 1. Dzulqa'dah, satu dari empat bulan haram Sunandar menjelaskan, Dzulqa’dah termasuk empat bulan haram, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 36. Maksud dari bulan haram dalam ayat ini, jelas Sunandar, adalah bulan yang di dalamnya diharamkan melakukan semua bentuk kezaliman dan aniaya. Segala dosa dan juga pahala menjadi amat besar di bulan-bulan ini dibanding bulan lainnya, sehingga bulan haram begitu mulia di sisi Allah.   2. Dzulqa'dah tergolong dalam tiga bulan haji Sunandar mengutip Tafsir Jalalain bahwa yang dimaksud dengan bulan haji dalam Surat Al-Baqarah ayat 197 adalah Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah (10 hari pertama). 3. Rasulullah langganan umrah Sunandar mengutip pendapat Imam Assyaukani dalam kitab Nailul Authar yang menyatakan bahwa silang pendapat tentang bulan terbaik pelaksanaan umrah, apakah di bulan Ramadhan atau di tiga bulan haji? Alasannya, karena Rasulullah tak pernah menunaikan umrah kecuali di Dzulqa’dah. 4. Janji Allah kepada Nabi Musa Allah berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 142: ”Dan kami telah menjanjikan kepada Musa untuk memberikan padanya kitab Taurat setelah berlalu 30 malam.” "Diriwayatkan dari Imam ‘Ata bahwa yang dimaksud dengan 30 malam dalam ayat tersebut adalah bulan Dzulqa’dah," jelas Sunandar, mengutip pendapat Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir Al-Qur’anil ‘Adhim.

Namun, mengingat bulan berikutnya adalah Zulhijah atau bulan haji, maka "amalan khusus" yang perlu dilakukan adalah bersiap-siap melaksakan ibadah kurban, karena amalan sunah yang paling disukai Allah SWT pada Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah --tahun ini insya Allah bertepatan dengan Jumat 6 juni 2025

Demikian ulasan ringkas tentang Keutamaan dan Amalan Sunah Bulan Dzulqaidah (Zulkaidah). Wallahu a'lam bish-shawabi.

disarikan dari NU.Online & Muslim or.id

Share:

Jejak langkah cahaya Anak-anak Kesayangan Rasullulloh bersilaturahim

 

Jejak Cahaya dari Rumah Belajar Pertemuan di Sekretariat Yayasan Griya bina Yamuti dalam rangka pembukaan rekening Bank untuk Penerima Manfaat.

Pada hari Senin 21 April 2025, langit Sukabumi membentang luas, membawa semangat baru bagi anak-anak dari Rumah Belajar Cikelat Cisolok dan Pelabuhan Ratu, Pangantolan . Mereka telah menantikan momen ini—perjalanan ke sekretariat Yayasan Griya Bina Yamuti, tempat di mana ilmu, inspirasi, dan kebersamaan bertemu dan seklaigus pembukaan rekening Bank untuk penyaluran penerimaan manfaat bagi anak-anak yang sangat dimuliakan Baginda Nabi Muhammad Saw.

Dengan langkah penuh antusias, rombongan dari rumah belajar tiba di sekretariat. Sebagian dari mereka memandang sekeliling dengan rasa ingin tahu, sementara yang lain langsung berbaur dengan para pembina dan relawan yang menyambut mereka dengan hangat.

“Selamat datang, adik-adik ibu bapak para wali anak-anak cerdas hebat smart! Hari ini kita akan belajar dan berbagi cerita bersama,” ujar seorang pengurus sambil tersenyum.

Sementara itu, di sudut lain, beberapa anak sedang berdiskusi dengan seorang mentor tentang mimpi dan harapan mereka. Ada yang ingin menjadi guru, dokter, tentara dan ada pula yang bercita-cita mengembangkan komunitas belajar di desanya agar lebih banyak anak-anak yang mendapatkan kesempatan yang sama seperti mereka.

Pertemuan ini bukan sekadar pertemuan biasa.selain proses pembukaan rekening ini dalah perjumpaan antara semangat belajar dan harapan. Dari obrolan ringan hingga diskusi mendalam tentang masa depan, anak-anak dari rumah belajar membawa energi positif yang menguatkan satu sama lain.

Di penghujung kunjungan, seorang anak mengucapkan sesuatu yang sederhana, namun menyentuh hati semua yang hadir. “Di sini, aku merasa seperti punya keluarga yang mendukung aku untuk terus maju.”

Silaturahim dari rumah belajar ke sekretariat ini bukan hanya tentang kegiatan akademik, tetapi juga tentang mengukuhkan impian, membangun kebersamaan, dan memperkuat tekad untuk masa depan yang lebih cerah. Dari setiap diskusi, tawa, dan doa yang terucap, cahaya kasih semakin bersinar, menghubungkan hati dalam satu tujuan: menjadikan pendidikan sebagai pintu menuju harapan.


Share:

Jejak silaturahim memancarkan Cahaya dari Rumah Belajar griya bina yamuti



Silaturahim dan Pembukaan Rekening Langkah Baru untuk Penerima Manfaat

=====================

Pagi hari selasa 22 April 2025, sekretariat Yayasan Griya Bina Yamuti dipenuhi dengan semangat dan harapan. Anak-anak yatim piatu dari Rumah Belajar Kp.Pawenang Nagrak, Cibadak, Gekbrong, Sukalarang, Baros, Kadudampit dan Cibolang Warudoyong telah berkumpul untuk sebuah momen penting—pembukaan rekening sebagai penerima manfaat bantuan. Ini bukan hanya tentang administrasi, tetapi juga tentang memberikan kemudahan dan memastikan bantuan sampai langsung kepada mereka yang membutuhkannya.

Para pengurus menyambut mereka dengan hangat, menjelaskan secara sederhana bahwa rekening yang akan dibuat bertujuan untuk mempermudah proses penerimaan bantuan. “Dengan rekening ini, kalian bisa menerima bantuan langsung tanpa harus repot mengambilnya secara tunai. Bantuan akan langsung masuk ke rekening masing-masing, sehingga lebih aman dan mudah diakses,” jelas salah satu relawan.

Sebelum memulai proses pengurus Yayasan dan hadirin pada saat proses dimulai maka dibiasakan dengan Berbismillah dan raih berkah dengan berdoa Tentunya, para petugas bank yang bekerja sama dengan yayasan membantu anak-anak mengisi formulir dan memahami bagaimana cara mengakses bantuan mereka. Beberapa anak, dan para wali dari anak-anak yang dimuliakan Rasullulloh SAW tampak antusias, mengikuti proses ini.

“Apa aku bisa menggunakan kartu ini untuk membeli buku sekolah?” tanya seorang anak bernama kevin, aliya, matanya berbinar.

Seorang pembina tersenyum, “Tentu! Bantuan yang masuk bisa digunakan sesuai kebutuhan kalian, seperti perlengkapan sekolah, makanan bergizi, atau hal lain yang mendukung kehidupan sehari-hari.”

Momen ini bukan sekadar pembukaan rekening, tetapi juga simbol dari langkah menuju sistem yang lebih efektif dan transparan. Dengan rekening yang dimiliki masing-masing penerima manfaat, yayasan bisa memastikan bahwa setiap bantuan diterima secara langsung dan tanpa kendala.

Di penghujung acara, anak-anak membawa pulang lebih dari sekadar buku tabungan. Mereka membawa harapan baru—bahwa dalam setiap bantuan, ada kepedulian dan usaha untuk membuat hidup mereka lebih mudah. Silaturahim yang terjalin semakin menguatkan hubungan antara yayasan dan anak-anak binaannya, mempertegas bahwa kepedulian adalah pondasi dari setiap langkah menuju masa depan yang lebih baik.

Baca juga kegiatan silaturahim:

"Jejak Cahaya dari Rumah Belajar Pertemuan di Sekretariat Yayasan Griya bina Yamuti dalam rangka pembukaan rekening Bank untuk Penerima Manfaat. Pada hari Senin 21 April 2025, langit Sukabumi membentang luas, membawa semangat baru bagi anak-anak dari Rumah Belajar Cikelat Cisolok dan Pelabuhan Ratu, Kp. Pangantolan "

"Bersedekah bukan tentang seberapa besar yang kita keluarkan, tetapi tentang ketulusan dalam berbagi"

Terimakasih Pemerintah Pusat KEMENSOS, Kota Sukabumi, Dinas Sosial Kota Sukabumi, seluruh relawan dan Seluruh Orang baik.

Jazakumullah Khairun Katsiraan

Rekening Sedekah, Infak Terbaik :

  • BSI : 2217089147
  • BRI : 441101040976531
  • An Yayasan Griya Bina Yamuti
#Peduliyatimdhuafa #pedulisesama #SedekahSubuh #SedekahJum'at






 

Share:

Kegiatan Bulan Desember

Label

Kegiatan Terbaru

Hebatnya Sedekah di Balik Rintihan Sakaratul Maut Sahabat Nabi

Hebatnya Sedekah di Balik Rintihan Sakaratul Maut Sahabat Nabi Rasulullah SAW mengungkap rahasia di balik ucapan terputus-p...

Label

artikel (1) berita (13) cinta tanah air momen kemerdekaan (2) dan Kegiatan Silaturahim Penerima Manfaat anak-anak yatim piatu Binaan (2) doa akhir tahun & awal tahun (1) donasiyatim (17) Dongeng (6) Dzulqa'dah (1) gerebek (15) Hikmah kelompok yang tidak diwajibkan solat (2) Hikmah orang yang Bakhil (1) hikmah Selepas Ramadhan (1) infak (7) Inspirasi (3) inspirasi silataruhiim pembukaan rekening Bank Bagi anak-anak yang dimuliakan Rasullulloh (1) Inspirasi tentang liburan lebih produktif (1) jumatberkah (15) kajian (1) kegiatan (31) Kegiatan Peresmian Majlis Penghapal Alqur'an Al Hafidz Oleh Pj.walikota Sukabumi (1) Keistimewaan Rajab (1) kisah Uwais Alqarni Penghuni Langit (1) Kurban 1445H (1) Laporan kegiatan Tahunan (1) Literasi (44) Literasi Dunia Islam (1) Literasi Dunia Islam peristiwa penting diBulan Rajab (1) Literasi Puasa Qadha Ramadhan (1) Literasi Tips jaga keluarga harmonis (1) Ngaji online (1) pembangunan (4) Pembinaan Diri (1) pengajian (2) Penyaluran infak zakat sedekah (1) Peringatan Hari besar Islam Maulid Nabi Muhammad Saw 1446 H / 27 sep 2024 M (1) program (4) program Bina Taqwa (3) Program kado lebaran dan THR Yatim dan Keluarga Pra Sejahtera (1) Program Kurban (1) program muharram (2) progres pembangunan Tahap 3 Ruang MPQ (1) qurban (6) ramadhan (1) Ramadhan Amalan Ramadahan (1) rumahbelajar (3) santunan (14) Sedekah Al-Qur'an (1) sedekahjumat (5) sedekahyatim (3) Tadabur (1) Tadarus (1) tentang bulan syawwal (1) tentang pristiwa di bulan syawwal (1) yamuti (2) yatimdhuafa (1) yatimpeduli (2) yatimpeduliu (1) zakat (3)